Radio Solopos, SOLO — Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kerajinan tas dan aksesori, Aina Craft, berhasil bertahan hampir satu dekade dengan mengandalkan inovasi desain, kualitas bahan, serta pemanfaatan pemasaran digital.
Usaha yang dirintis sejak 2017 itu kini terus berkembang dan mulai mempekerjakan tenaga penjahit untuk memenuhi permintaan pasar.
Owner Aina Craft, Ulumul Nur Aina, mengatakan usaha tersebut bermula dari kegemarannya membuat kerajinan dari sisa kain di rumah.
Dari percobaan sederhana tersebut, ia kemudian mulai memproduksi tas dan aksesori secara bertahap sebelum akhirnya menjualnya secara daring.
“Awalnya dari perca-perca kain di rumah yang saya coba olah menjadi aksesori. Dari situ kemudian berkembang menjadi tas dan produk lainnya,” ujar Aina dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Kamis (5/3/2026).
Produk yang dihasilkan Aina Craft meliputi tas, dompet, hingga aksesori seperti cermin kecil. Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari kanvas, tenun, batik, hingga kulit asli dan kulit sintetis.
Sebagian produk juga dibuat berdasarkan pesanan pelanggan atau custom order.
Kompetitif
Dalam menentukan harga, Aina Craft berusaha tetap kompetitif dengan menyesuaikan kualitas produk.
Harga cermin dibanderol mulai Rp85.000, dompet koin sekitar Rp75.000, sedangkan tas dijual dengan kisaran Rp200.000 hingga Rp500.000 untuk bahan kulit asli.
Aina menjelaskan, sejak awal usaha tersebut dijalankan dengan memanfaatkan pemasaran digital melalui media sosial.
Selain menggunakan Instagram dan platform marketplace, ia juga menggandeng influencer untuk memperluas jangkauan pasar.
Menurutnya, promosi melalui influencer cukup efektif selama dilakukan dengan strategi yang tepat, seperti memilih figur yang memiliki kesesuaian konsep dengan produk serta tingkat keterlibatan pengikut yang baik.
“Yang penting dilihat bukan hanya jumlah pengikut, tetapi juga engagement mereka. Produk yang dipromosikan juga harus tersedia stoknya karena biasanya konsumen ingin membeli produk yang dipakai influencer,” katanya.
Selama menjalankan usaha, Aina Craft juga sempat menghadapi tantangan saat pandemi Covid-19.
Pada masa tersebut, produksi tas sempat menurun dan usaha beralih sementara ke pembuatan masker untuk menyesuaikan kebutuhan pasar.
Memasuki 2023, usaha tersebut kembali berkembang sehingga Aina mulai merekrut penjahit untuk membantu proses produksi.
Saat ini, sistem penjualan tidak hanya menggunakan pre-order, tetapi juga menyediakan sejumlah produk ready stock terutama menjelang momen permintaan tinggi seperti Ramadan dan Lebaran.
Aina menilai kunci keberlanjutan usaha kerajinan adalah menjaga kualitas, mendengarkan kebutuhan pelanggan, serta terus menghadirkan inovasi desain agar tetap mengikuti tren pasar.
“Yang penting menjaga kualitas, mendengarkan keluhan pelanggan, dan terus berinovasi agar produk tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap Aina Craft dapat terus menghadirkan desain tas yang mengikuti perkembangan tren sekaligus menjangkau lebih banyak segmen konsumen, mulai dari anak muda hingga perempuan dewasa yang masih produktif.
