Radio Solopos, SOLO — Di tengah gempuran digitalisasi dan kemunculan kecerdasan buatan (AI), usaha percetakan rumahan masih memiliki peluang berkembang.
Kuncinya terletak pada kemampuan beradaptasi, menawarkan layanan yang personal, serta memberikan nilai tambah yang tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi.
Hal itu dibuktikan oleh Wulan, owner Cetakku, usaha desain dan percetakan custom rumahan yang dirintis dari hobi desain hingga berkembang menjadi sumber penghasilan utama keluarga.
Berbekal laptop dan printer rumahan, ia mulai membuka jasa desain dan percetakan custom.
Ketertarikannya pada dunia desain sebenarnya sudah muncul sejak masa sekolah dan kuliah, bahkan sempat menghasilkan pendapatan tambahan dari berbagai karya desain yang dibuat secara mandiri.
“Waktu kena layoff, saya berpikir pekerjaan apa yang bisa dilakukan dari rumah. Akhirnya saya serius mengembangkan usaha desain dan percetakan ini,” ujar Wulan dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Rabu (3/6/2026).
Meski sempat vakum pada 2025 karena keterbatasan modal dan menjual printer yang dimiliki, Wulan kembali menekuni usahanya setelah memperoleh pemasukan dari jasa desain digital untuk berbagai kebutuhan pelaku UMKM.
Mulai dari desain feed media sosial, label produk, proposal, hingga materi promosi, seluruh layanan tersebut menjadi modal untuk mengembangkan kembali usaha percetakannya.
Sentuhan Manusia
Menurut Wulan, kemunculan AI tidak menjadi ancaman besar bagi bisnis yang dijalankannya. Bahkan, ia mengaku memanfaatkan teknologi tersebut untuk membantu pembuatan mockup desain.
Namun, ia meyakini hasil karya manusia tetap memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan desain yang sepenuhnya dibuat mesin.
“Orang-orang masih order karena desain buatan manusia memiliki sentuhan yang berbeda. Saya juga tetap menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas,” katanya.
Salah satu strategi yang diterapkan untuk menarik pelanggan adalah memberikan layanan desain gratis untuk setiap pemesanan produk cetak. Konsumen hanya dikenakan biaya berdasarkan ukuran dan jenis bahan yang digunakan.
Keunggulan lain yang ditawarkan Cetakku adalah layanan desain custom yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Mulai dari undangan pernikahan, kartu nama, stiker, label produk, kalender, kartu ucapan, amplop Lebaran, hingga perlengkapan sekolah seperti pensil dan stiker nama.
Wulan bahkan memiliki produk kartu nama ilustrasi yang dibuat berdasarkan gambar karakter atau ilustrasi personal sesuai permintaan pelanggan.
Menurutnya, produk tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan usahanya dengan percetakan lain.
Untuk jasa desain media sosial, Cetakku mematok harga mulai Rp35.000 per desain khusus bagi pelaku UMKM. Sementara stiker waterproof ukuran kecil dijual mulai Rp10.000 per 50 lembar.

Bidik Pasar
Selain mengandalkan layanan desain gratis, Wulan menerapkan strategi harga yang lebih ekonomis dibandingkan percetakan skala besar.
Untuk kebutuhan cetak sederhana, seluruh proses dikerjakan menggunakan printer rumahan.
Adapun pesanan premium dengan spesifikasi tertentu dikerjakan melalui vendor percetakan yang telah menjadi mitra usahanya.
Menurut dia, pendekatan tersebut membuat pelanggan memiliki lebih banyak pilihan sesuai anggaran yang dimiliki.
“Kalau ingin yang ekonomis bisa saya kerjakan sendiri. Kalau ingin yang premium juga bisa karena saya bekerja sama dengan vendor,” ujarnya.
Saat ini, segmen pasar terbesar yang dilayani Cetakku berasal dari kebutuhan undangan pernikahan dan undangan wisuda.
Selain itu, produk perlengkapan sekolah custom seperti pensil nama dan stiker identitas anak juga menjadi salah satu produk yang cukup diminati, terutama menjelang tahun ajaran baru.
Wulan mengakui bisnis percetakan custom memiliki karakter yang cenderung mengikuti musim.
Karena itu, ia mulai menata strategi produksi berdasarkan momentum tertentu, seperti musim pernikahan, tahun ajaran baru, Lebaran, hingga perayaan Imlek.
“Yang penting tetap kreatif dan terus belajar. Peluang di bidang desain dan percetakan masih sangat banyak,” ujarnya.
Meski dijalankan dari rumah dengan peralatan sederhana, Wulan optimistis usaha kreatif masih memiliki prospek yang menjanjikan selama pelaku usaha mampu membaca kebutuhan pasar dan terus berinovasi.
Baginya, menjalankan usaha sendiri bukan hanya soal memperoleh penghasilan, tetapi juga memberi kesempatan untuk tetap mendampingi anak dan merawat orang tua di rumah.
