Radio Solopos, SOLO — Tren memelihara hewan eksotis membuka peluang usaha baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Salah satunya dimanfaatkan oleh Moonglade Store yang mengembangkan bisnis penjualan hewan peliharaan sugar glider di Solo.
Owner Moonglade Store, Ajik, mengatakan sugar glider merupakan hewan marsupial berkantung yang berasal dari Papua dan Australia.
Hewan ini memiliki ciri khas bulu lembut serta kemampuan melayang dari satu tempat ke tempat lain.
“Sugar glider ini termasuk marsupial berkantung, seperti kanguru. Asalnya dari Papua dan Australia. Bentuknya agak mirip perpaduan hamster dan tupai, tetapi bulunya jauh lebih lembut,” ujar Ajik dalam talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, sugar glider semakin dikenal oleh masyarakat di wilayah Soloraya.
Hal tersebut terlihat dari perputaran penjualan yang cukup stabil, terutama dari kalangan pecinta hewan peliharaan.
Tidak hanya menjual hewan, Moonglade Store juga menyediakan berbagai perlengkapan pendukung seperti pakan, tas khusus membawa hewan, hingga tempat tidur dengan berbagai bentuk.
“Saya tidak hanya menjual sugar glider, tetapi juga makanannya, tas untuk membawa hewan, serta tempat tidur dengan berbagai bentuk yang disukai hewan ini,” katanya.
Ajik menjelaskan, sugar glider termasuk hewan yang relatif mudah dipelihara. Pakan utamanya berupa buah-buahan manis seperti pepaya, pir, apel, dan pisang.
Selain itu, hewan ini juga bisa diberi tambahan protein dari serangga seperti jangkrik atau ulat.
Rentang Harga
Ia menyarankan sugar glider mulai dipelihara sejak usia dua bulan atau setelah disapih dari induknya agar lebih mudah beradaptasi dengan pemilik.
Dari sisi harga, sugar glider memiliki rentang yang cukup lebar tergantung jenis dan karakteristik warnanya.
Untuk jenis standar berwarna abu-abu, harga biasanya berkisar Rp300.000, sementara beberapa jenis langka dapat mencapai puluhan juta rupiah.
“Kalau yang umum seperti jenis grey sekitar tiga ratus ribuan. Tetapi ada juga jenis tertentu yang harganya bisa sampai puluhan juta karena lebih langka,” jelasnya.
Selain pakan, kebersihan kandang dan kenyamanan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam perawatan sugar glider.
Ajik menuturkan hewan ini dapat mengalami stres jika kandang kotor atau lingkungan terlalu bising.
Ia juga menyebut sugar glider memiliki umur yang relatif panjang, rata-rata antara 10 hingga 15 tahun jika dirawat dengan baik.
Ajik sendiri mulai memelihara sugar glider sejak 2009 saat masih kuliah di Bogor.
Ketertarikannya terhadap hewan tersebut kemudian berkembang menjadi peluang usaha yang kini dijalankannya di Solo.
“Awalnya hanya pelihara sejak kuliah karena praktis dan bisa dibawa ke mana-mana. Dari situ akhirnya berkembang menjadi usaha,” ujarnya.
Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap hewan peliharaan unik, Ajik melihat bisnis sugar glider masih memiliki prospek yang cukup menjanjikan di masa depan.
