Radio Solopos, SOLO — Produk ecoprint handmade masih memiliki pasar tersendiri di tengah maraknya produk tekstil bermotif cetak.
Melihat peluang tersebut, Roels Craft memilih fokus menggarap segmen premium melalui produk ecoprint berbahan alami yang mengutamakan keunikan motif dan nilai eksklusivitas.
Owner Roels Craft, Rueli Mayasari, mengatakan ecoprint memiliki keunggulan karena setiap produk dibuat secara manual menggunakan daun dan bunga asli sehingga tidak ada motif yang benar-benar sama antara satu produk dan produk lainnya.
“Keunikan ecoprint ada di situ. Dari satu pohon saja, warna dan motif yang dihasilkan bisa berbeda. Itu yang membuat setiap produk memiliki karakter tersendiri,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Kamis (5/6/2026).
Menurut dia, ketertarikannya pada ecoprint berawal dari rasa penasaran terhadap harga produk yang relatif tinggi di pasaran.
Dari situ, ia mulai mempelajari proses pembuatannya hingga akhirnya memutuskan memproduksi sendiri berbagai produk ecoprint, mulai dari tas hingga kain siap pakai.
Rueli menjelaskan proses produksi ecoprint tidak sesederhana menempelkan daun pada kain.
Sebelum digunakan, kain harus melalui tahapan pembersihan dan pemberian mordan untuk membantu warna alami daun menempel dengan baik pada serat kain.
Selain itu, bahan yang digunakan juga harus berasal dari serat alami agar motif dapat tercetak secara optimal.
Riset Pasar
Meski berangkat dari hobi dan ketertarikan terhadap dunia kriya, Rueli mengaku pengembangan usahanya tidak dilakukan tanpa perencanaan.
Ia melakukan riset pasar untuk memahami selera konsumen sekaligus menentukan segmen yang ingin dibidik.
Menurut dia, produk ecoprint umumnya diminati kalangan menengah ke atas karena memiliki nilai seni, dibuat secara manual, dan membutuhkan proses produksi yang relatif panjang.
Kondisi tersebut mendorong Roels Craft memilih memproduksi barang dalam jumlah terbatas atau limited edition.
Strategi tersebut diterapkan untuk menjaga eksklusivitas produk sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi konsumen.
“Kalau membuat sendiri, kita bisa menyesuaikan dengan selera pasar dan anggaran yang dimiliki. Saya memang sengaja membuat produk terbatas supaya memiliki ciri khas yang berbeda,” katanya.
Selain mengandalkan kualitas produk, Rueli aktif mengikuti komunitas ecoprint tingkat nasional.
Melalui komunitas tersebut, ia dapat bertukar informasi mengenai teknik produksi, pengembangan produk, hingga tren pasar terbaru.
Menurutnya, bergabung dengan komunitas menjadi salah satu cara untuk menjaga kualitas sekaligus memperluas jaringan usaha.

Pesanan Nasional
Rueli menilai prospek bisnis ecoprint di Indonesia masih cukup besar. Selain memiliki pasar yang terus berkembang, Indonesia juga memiliki kekayaan hayati yang melimpah sebagai sumber bahan baku alami.
Berbagai jenis daun seperti jati, kalpataru, vitek, hingga bunga air mata pengantin dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan motif dan warna yang berbeda pada kain.
“Indonesia tidak akan kekurangan bahan untuk ecoprint karena sumber daya alamnya sangat banyak dan beragam,” ujarnya.
Potensi tersebut turut mendorong perkembangan usaha Roels Craft. Ia mengaku pernah menerima pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua.
Salah satu pesanan yang pernah dikerjakan mencapai 65 lembar kain dengan kombinasi teknik ecoprint dan shibori.
Untuk produk kombinasi tersebut, harga per lembar berkisar Rp350.000 hingga Rp375.000 karena memerlukan dua tahapan pengerjaan sekaligus.
Dalam satu kali produksi, Rueli dapat memproses sekitar sembilan hingga 10 lembar kain menggunakan kukusan berkapasitas besar.
Namun, proses produksi tetap sangat bergantung pada ketersediaan daun yang harus dipetik dalam kondisi segar pada pagi hari agar menghasilkan cetakan yang maksimal.
Saat ini seluruh proses produksi masih dikelola bersama keluarga.
Meski demikian, Rueli mulai melakukan regenerasi dengan melatih sejumlah orang yang tertarik mempelajari ecoprint untuk membantu ketika terdapat pelatihan maupun pesanan dalam jumlah besar.
Ke depan, Roels Craft berencana mengembangkan inovasi produk melalui kolaborasi dengan perajin lain, termasuk memadukan teknik ecoprint dengan batik khas daerah.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkaya variasi produk sekaligus memperkuat identitas lokal yang menjadi nilai tambah dalam industri kriya berbasis bahan alami.
Menurut Rueli, inovasi menjadi kunci agar produk ecoprint tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga mampu bersaing dan menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan karakter khasnya sebagai produk handmade.
