Radio Solopos, SOLO— Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) furnitur kandang hewan atau pet furniture dari Kalijambe, Kabupaten Sragen, RachmaJaya Wood Craft, mampu bertahan selama 11 tahun dengan capaian omzet rata-rata Rp30 juta hingga Rp40 juta per bulan.
Pemilik RachmaJaya Wood Craft, Fahmi, mengatakan usaha tersebut dirintis sejak 2014 saat dirinya masih kuliah semester empat.
Berawal dari hobi memelihara kelinci dan membuat kotak kelahiran sederhana, produk tersebut justru diminati komunitas pecinta hewan.
“Awalnya hanya membuat box kelahiran kelinci untuk dipakai sendiri. Setelah diunggah ke media sosial, banyak yang memesan dan meminta model lain,” ujar Fahmi dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Selasa (3/3/2026).
Dari produk sederhana berbahan kayu, pesanan berkembang ke kandang kucing, anjing, hamster, marmut, hingga hewan eksotis seperti cincila.
Harga produk bervariasi, mulai Rp20.000 untuk mainan kayu hewan pengerat hingga Rp10 juta untuk kandang cincila berbahan kombinasi aluminium dan stainless steel.
Menjanjikan
Fahmi menjelaskan, segmen pasar pet furniture tergolong khusus karena tidak semua masyarakat memelihara hewan.
Namun, ia menilai pasar tetap menjanjikan karena konsumen yang membeli umumnya mengutamakan kualitas dan daya tahan produk.
“Untuk kandang ukuran standar, rata-rata di kisaran Rp300.000 sampai Rp500.000. Kalau kombinasi stainless atau aluminium bisa lebih tinggi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan,” katanya.
Produksi tidak ditargetkan berdasarkan jumlah unit, melainkan nilai penjualan. Untuk kandang sederhana berbahan kayu, timnya mampu memproduksi hingga tiga unit per hari.
Namun, untuk kandang khusus seperti cincila dengan tinggi 180 sentimeter dan ukuran 80×80 sentimeter, proses pengerjaan bisa memakan waktu hingga satu bulan.
Ia menyebut, pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Salah satu pesanan dikirim dalam bentuk knockdown ke Australia guna menekan ongkos kirim.
Dalam perjalanannya, tantangan terbesar bukan hanya persaingan usaha, tetapi juga duplikasi desain dan penggunaan foto produk oleh pihak lain di marketplace.
Untuk perlindungan hukum, Fahmi memilih mendaftarkan hak merek dan menambahkan watermark pada setiap unggahan produk.
Meski persaingan meningkat, RachmaJaya Wood Craft mampu mempertahankan rating 4,9 di sejumlah marketplace.
Fahmi menilai konsistensi kualitas dan respons terhadap keluhan pelanggan menjadi kunci keberlanjutan usaha.
“Prinsip kami jujur, menjaga kualitas, dan terus berinovasi. Kalau hanya mengejar kuantitas tanpa kualitas, usaha tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Selain mengandalkan pemasaran daring melalui Instagram, TikTok, dan marketplace, Fahmi juga aktif mengikuti pelatihan manajemen usaha dan pemasaran yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta untuk memperkuat daya saing.
Dengan menjaga kualitas dan terus berinovasi, RachmaJaya Wood Craft membuktikan bahwa bisnis kandang hewan yang menyasar pasar tetap memiliki prospek selama pelaku usaha adaptif terhadap kebutuhan konsumen dan perubahan pasar.
