Radio Solopos, SOLO – Workshop keramik tidak hanya menjadi ruang belajar membuat karya seni, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana relaksasi dan pengembangan kreativitas bagi masyarakat.
Konsep tersebut diterapkan oleh sebuah studio keramik di Solo melalui kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap peserta.
Potstory Ceramic Studio, yang berlokasi di Laweyan dan didirikan oleh Sandi Kristian mengadakan workshop yang diselenggarakan setiap hari secara privat atau dalam kelompok kecil.
Penyelenggaraan secara privat tersebut dilaksanakan supaya peserta dapat memperoleh pendampingan yang lebih maksimal.
Menurutnya, sistem tersebut membuat proses belajar dapat menyesuaikan usia, kemampuan, hingga tujuan masing-masing peserta.
“Kalau rombongan masih memungkinkan, tetapi kalau jumlahnya banyak biasanya kami menambah mentor dari luar studio. Semua harus reservasi terlebih dahulu supaya bahan, alat, dan tempat bisa kami siapkan,” ujar Sandi dalam Talkshow Selasar Radio Solopos, Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan reservasi dapat dilakukan melalui media sosial Instagram sebelum nantinya akan diarahkan ke admin untuk proses pemesanan.
Peserta dapat melakukan pembayaran uang muka minimal 50 persen agar jadwal dapat dipastikan.
Menurut Sandi, pemesanan ideal dilakukan dua hingga tiga hari sebelum pelaksanaan kelas.
Hal tersebut dilaksanakan agar seluruh kebutuhan workshop dapat dipersiapkan dengan baik.
Terapi Lewat Keramik
Sandi mengungkapkan kelas keramik tidak hanya diikuti masyarakat yang ingin belajar membuat karya seni.
Akan tetapi juga peserta yang memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai media mengekspresikan diri.
Sandi menyebutkan bahwa proses membuat keramik menjadi program stress healing.
Salah satu pengalaman dengan peserta yang berkesan, diceritakan oleh Sandi.
Datang dari seorang dokter yang mengikuti workshopnya karena merasa mengalami masalah dan pikiran.
Setelah menyelesaikan karyanya, peserta tersebut mengaku merasa lebih lega.
“Nanti kami akan membawa peserta ke dunia yang dia akan memahami dirinya sendiri. Dia akan melepaskan kepenatannya, setelah itu dia akan mengeksplorasi dirinya ke dalam media karya dengan tanah liat,” katanya.
Selain orang dewasa, studio tersebut juga melayani kelas untuk anak-anak hingga lansia.
Metode pembelajaran disesuaikan dengan karakter peserta.
Contohnya misalkan penggunaan teknik hand building dipergunakan bagi lansia untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik.
Sandi menambahkan setiap karya yang dihasilkan memiliki karakter berbeda.
Sehingga peserta didorong untuk mengembangkan ide sendiri tanpa meniru hasil orang lain.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses edukasi dan membangun rasa percaya diri dalam berkarya.
Sentuhan Jiwa Seni
Sandi sendiri mengakui usaha ini dirinya rintis dengan berbekal pengetahuan yang ia miliki saat S1 Seni Rupa di UNS.
Setelah lulus, Sandi tetap mengikuti magang di berbagai lokasi sebelum akhirnya kembali ke Solo.
Melihat masih sedikitnya antusiasme warga Solo terhadap karya seni keramik, membuatnya terus berusaha mengadakan pelatihan dan pendampingan.
Sandi menyatakan bahwa tidak harus orang yang berjiwa seni saja yang mencoba hal tersebut.
Menurutnya selama ada niat, siapapun bisa membuat produk kerajinan seni keramik.
”Kalau punya niat, tinggal implementasikan, kemana saja, bisa jalan.” tutup Sandi.
