• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

Sumanto: Agar Seni Tradisional Dikenal Generasi Muda, Harus Gencar Disiarkan via Medsos

Adv

Abu Nadzib by Abu Nadzib
10 December 2025
in News
0
Pengusaha Sound System Diimbau Upgrade Alat serta Tak Lebihi Decibel Suara

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto (Istimewa)

Radio Solopos, JAKARTA – Minimnya kesadaran generasi muda terhadap identitas budaya dinilai karena kurangnya tayangan tradisional yang sampai kepada mereka.

Hal itu disebabkan siaran tentang pentas seni tradisional melalui media sosial masih sedikit.

Karenanya, para pelaku seni perlu menggencarkan siaran seni tradisional secara digital.

Keprihatinan itu disampaikan Ketua DPRD Jateng Sumanto. Sumanto mengakui, perkembangan zaman membuat kesenian tradisional seolah tersisih.

Menurutnya, perlu strategi khusus untuk melestarikan seni budaya agar tak lekang oleh arus globalisasi.

ia menyatakan jika jeli memanfaatkan, kemajuan teknologi bisa membuka peluang besar dalam mengenalkan seni budaya kepada generasi muda.

“Generasi muda ini kan akrab dengan internet dan medsos. Maka kesenian pun perlu disiarkan dengan cara live streaming atau mengunggah videonya ke medsos,” ujarnya, belum lama ini.

Sebenarnya, lanjut Sumanto, kesenian tradisional tak boleh kalah dengan budaya populer.

wayang kulit sumanto ketua dprd jateng
Ketua DPRD Jateng Sumanto dinobatkan sebagai Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar. Julukan itu diberikan Paguyuban Dalang Karanganyar atas kepedulian Sumanto dalam nguri-uri kesenian wayang kulit. (Istimewa)

Hanya butuh cara baru di era digital untuk memperkenalkan budaya daerah, mulai dari seni tari, wayang, hingga berbagai kesenian lainnya.

“Salah satu caranya dengan menyiarkan pentas kesenian tradisional melalui media sosial. Ini akan membuat pagelaran kesenian terdokumentasi dan bisa dinikmati secara luas oleh masyarakat,” tambah Sumanto.

Ia menambahkan, digitalisasi ini penting agar warisan budaya tidak hilang atau terlupakan.

Sumanto mengajak generasi muda memproduksi konten kreatif berbasis budaya, seperti video edukasi, film dokumenter, hingga podcast yang mengangkat kesenian tradisional.

Cara ini sudah Sumanto lakukan pada pagelaran wayang kulit setiap bulan di kediamannya, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar.

Sumanto mengganti prosesi sambutan sebelum pagelaran wayang kulit dengan talkshow yang mengundang dalang atau pemerhati seni sebagai narasumber.

Sumanto bahkan menjadi host dan mengajak dialog tentang cerita lakon wayang kulit sebelum pentas.

“Tujuannya agar penonton dan masyarakat mengetahui cerita yang ada pada lakon wayang kulit. Sebab selama ini banyak yang suka nonton wayang tapi nggak tahu ceritanya,” katanya.

Tak hanya itu, saat ini pagelaran wayang juga sudah disiarkan live melalui akun-akun di Youtube.

Penonton Banyak

Penontonnya pun lumayan banyak. Ia menambahkan, konten kreatif membuat budaya lebih dekat dengan anak muda.

Saat ini, lanjutnya, hanya sebagian masyarakat, terutama di desa-desa yang masih antusias menonton pentas wayang kulit. Meski penyelenggara pentas terkadang harus menarik minat masyarakat tersebut dengan iming-iming hadiah atau doorprize.

Sumanto menambahkan, sejumlah inovasi juga perlu dilakukan demi menarik minat publik yang lebih luas.

Contohnya, sejumlah dalang mengadaptasi kisah-kisah kontemporer ke panggung wayang tanpa meninggalkan pakem utama.

Berbagai pendekatan tersebut cukup efektif untuk menjembatani tradisi dan teknologi.

“Harus ada kepedulian dari kita untuk melestarikan wayang kulit. Termasuk anak-anak diajak nonton wayang. Kalau tidak begitu, pelestarian wayang kulit hanya menjadi slogan,” tandasnya. (ADV/*)

Tags: wayangsumantoketua dprd jatengseni tradisional

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Dana Transfer Pusat Turun Rp1,5 Triliun, Sumanto: Pemprov Jateng Harus Kreatif Gali Potensi PAD
  • Fokus Kolaborasi Pemerintah Pusat–Daerah, Penanganan Rob Pekalongan Masuk Tahap Evaluasi Ulang
  • DPRD Jateng Bahas Raperda Penyelenggaraan Standardisasi Jalan dan Garis Sempadan
  • Ketersediaan Aspal dan Cuaca Jadi Tantangan, Wali Kota Pekalongan: Perbaikan Jalan Terus!
  • Lomba Mancing “Wali Kota Cup II” Dongkrak Potensi Wisata Pantai Pekalongan

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.