Radio Solopos, SOLO — Mencari makanan murah di Kota Solo masih relatif mudah. Bagi anak kos, mahasiswa, dan pekerja yang harus mengatur pengeluaran harian, sejumlah warung makan di sekitar kampus hingga kawasan permukiman menawarkan menu dengan harga mulai Rp10.000.
Pilihan makanannya pun beragam. Ada nasi dan lauk sederhana, ayam geprek, penyetan, rica-rica, mi ayam, hingga kuliner khas Solo. Sejumlah tempat bahkan menawarkan paket makan lengkap dengan nasi dan minuman di kisaran Rp10.000-Rp15.000.
Pilihan harga tersebut menjadi menarik di tengah pengeluaran masyarakat yang terus bersinggungan dengan kebutuhan makanan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan 2% pada Agustus 2025. Pada periode yang sama, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,53% secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan harga makanan tetap menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan masyarakat.
Rp10.000 Masih Bisa Makan
Bagi mahasiswa dan anak kos, kawasan sekitar kampus menjadi salah satu tempat yang mudah menemukan makanan dengan harga terjangkau.
Salah satu kawasan yang terkenal adalah sekitar Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan sekitar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Sejumlah publikasi kuliner mencatat adanya menu mahasiswa dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp13.000 di sekitar kampus. Salah satunya adalah warung HAMAS atau Harga Mahasiswa yang menawarkan makanan rumahan dengan rentang tersebut.
Ada pula Gultik 28 di Jalan Kartika, Jebres. Pada publikasi 2024, seporsi gulai daging sapi di tempat tersebut disebut dapat dinikmati dengan bujet sekitar Rp10.000.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa makanan seharga Rp10.000 bukan sekadar konsep promosi. Di kawasan yang menyasar mahasiswa, harga murah menjadi bagian dari strategi usaha untuk mempertahankan pelanggan.
Ayam Geprek kisaran Rp10.000-an
Menu ayam geprek juga menjadi salah satu pilihan populer mahasiswa.
Ayam Geprek Kumlot di kawasan Jebres, misalnya, pernah diberitakan menawarkan paket nasi ayam geprek dan es teh mulai sekitar Rp10.000-an. Tempat tersebut juga dikenal di kalangan mahasiswa dan sekitarnya.
Publikasi lain mengenai kuliner murah sekitar mencatat Ayam Geprek Kumlot sebagai salah satu tempat makan dengan harga mulai Rp8.000-an.
Bagi mahasiswa, kombinasi nasi, lauk dan minuman menjadi nilai penting karena satu paket sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan tanpa harus mengeluarkan uang tambahan.
Ada yang di Bawah Rp10.000
Pilihan lebih murah juga masih ditemukan.
Sejumlah rekomendasi kuliner di Solo pernah mencatat menu seperti nasi rica di Warung Rica Bu Sartini sekitar Rp8.500, sedangkan menu tertentu di Ayam Penyet Bandung dapat diperoleh sekitar Rp10.000.
Saat ini Warung Rica Bu Sartini masih tercatat sebagai salah satu tempat makan di kawasan Jebres dengan rentang harga Rp1-Rp25.000 pada data bisnis yang tersedia.
Selain itu, WARUNG SE belakang kampus UNS di Jalan Kartika 5, Jebres, juga tercatat memiliki rentang harga Rp1-Rp25.000.
Kisaran harga pada data bisnis tersebut bukan berarti seluruh menu dijual pada harga yang sama. Harga aktual tetap bergantung pada menu dan lauk yang dipilih.
Kantin Kampus Jadi Pilihan
Kuliner murah juga tidak selalu berada di luar kampus.
Kantin Mbok Jum pernah diberitakan sebagai salah satu tempat makan yang menjadi pilihan mahasiswa. Seporsi nasi gudeg dengan sambal goreng, telur dadar, kerupuk dan teh disebut dibanderol Rp11.000.
Seorang pelanggan bernama Brian dalam artikel tersebut menggambarkan tempat itu sebagai nyaman untuk ngobrol dan makanannya murah.
Testimoni tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa bagi mahasiswa, faktor harga bukan satu-satunya pertimbangan. Tempat yang nyaman untuk makan sekaligus berbincang juga menjadi nilai tambah.
Saat ini Kantin Mbok Jum tercatat sebagai rumah makan Jawa di kawasan Jebres.
Anak Kos dan Strategi Mengatur Uang
Kehadiran makanan murah menjadi semakin penting bagi anak kos.
Mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga harus membagi uang bulanan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari tempat tinggal, transportasi, pulsa, tugas kuliah hingga makanan.
Karena itu, makanan dengan harga Rp10.000-Rp15.000 menjadi salah satu pilihan rasional.
Pengalaman seorang mahasiswa di solo yang dipublikasikan pada 2024 juga menggambarkan kondisi tersebut. Ilham Syaifudin Alfata menulis bahwa setelah baru dua bulan kuliah di solo, ia sudah menemukan sejumlah tempat makan murah di sekitar kampus yang menurut pengalamannya cocok untuk kantong mahasiswa.
Pengalaman tersebut bukan survei statistik, tetapi memberikan gambaran dari sisi konsumen mengenai bagaimana kawasan kampus membentuk ekosistem kuliner dengan harga yang menyesuaikan kemampuan mahasiswa.
Bukan Hanya Mahasiswa
Pasar kuliner murah sebenarnya tidak hanya mahasiswa.
Pekerja dengan waktu makan terbatas juga membutuhkan makanan yang cepat, terjangkau dan cukup mengenyangkan.
Warung dengan konsep prasmanan atau nasi rames menjadi salah satu pilihan karena pembeli bisa memilih lauk berdasarkan bujet.
Untuk kebutuhan makan siang, misalnya, konsumen dapat memilih nasi dengan sayur dan telur. Jika memiliki bujet lebih, lauk ayam atau daging bisa ditambahkan.
Konsep tersebut membuat konsumen memiliki kendali terhadap jumlah pengeluaran.
Menu Kekinian Tetap Bisa Murah
Selera anak muda juga tidak selalu identik dengan makanan tradisional.
Ayam geprek, mi ayam, mi pedas, rice bowl, seblak, kebab dan berbagai makanan berbasis olahan ayam tetap menjadi pilihan dan memiliki rentang harga Rp1-Rp25.000. Ada pula Warmindo Titik Temu di Jebres yang tercatat berada pada rentang harga Rp1-Rp25.000.
Namun, agar sesuai dengan pasar mahasiswa, pelaku usaha perlu menjaga harga tetap kompetitif.
Kedua contoh tersebut menunjukkan bagaimana kawasan kampus menjadi ruang tumbuh bagi usaha makanan dengan rentang harga yang relatif dekat dengan kemampuan mahasiswa.
Kuliner Murah Tetap Punya Pasar
Data BPS juga memperlihatkan bahwa biaya hidup dan harga makanan perlu terus diperhatikan.
Pada Agustus 2025, kelompok makanan, minuman dan tembakau di Kota Surakarta mengalami inflasi 2% secara tahunan. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,53%.
Artinya, pelaku usaha kuliner menghadapi tantangan untuk mempertahankan harga sekaligus menjaga kualitas ketika biaya operasional berubah.
Di sisi konsumen, kondisi tersebut membuat makanan murah tetap dicari.
Bagi anak kos, harga Rp10.000 bisa menjadi pembeda antara makan di luar atau memasak sendiri.
Bagi mahasiswa, harga belasan ribu memungkinkan uang saku digunakan untuk kebutuhan lain.
Sementara bagi pekerja, makanan murah menjadi solusi untuk mengendalikan pengeluaran makan harian.
Murah, Kenyang, dan Bisa Nongkrong
Kuliner murah di Solo pada akhirnya bukan hanya persoalan harga.
Anak muda juga mencari tempat yang nyaman. Mahasiswa membutuhkan makanan yang mengenyangkan dengan harga bersahabat. Pekerja membutuhkan makanan yang cepat disajikan. Anak kos membutuhkan menu yang bisa disesuaikan dengan kondisi dompet.
Karena itu, warung makan yang mampu menawarkan kombinasi harga murah, rasa enak, porsi cukup, pelayanan cepat dan tempat nyaman memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Solo memiliki ekosistem yang mendukung kebutuhan tersebut. Di kawasan kampus, misalnya, pilihan makanan murah tumbuh berdampingan dengan tempat nongkrong dan kuliner kekinian.
Bagi pemburu kuliner hemat, pilihannya pun cukup luas.
Rp10.000 masih bisa mendapatkan makanan. Rp15.000-Rp20.000 membuka lebih banyak pilihan. Sementara dengan Rp25.000, konsumen bisa memilih menu yang lebih beragam, termasuk kuliner khas Solo.
Dengan demikian, bagi anak kos, mahasiswa dan pekerja, kuliner murah bukan sekadar alternatif.
Ia sudah menjadi bagian dari gaya hidup makan hemat di Kota Solo.














