• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

INFO SEHAT : Memaksa Diri Untuk Bahagia Bisa Berbahaya

Redaksi by Redaksi
11 March 2017
in News
0
INFO SEHAT : Memaksa Diri Untuk Bahagia Bisa Berbahaya

SoloposFM—Kesuksesan yang diraih oleh seseorang tak hanya diukur dari seberapa kaya orang tersebut tetapi juga seberapa bahagia orang tersebut. Karena kebahagian adalah aspek penting dalam kehidupan seseorang.

“Saya percaya pemikiran dan emosi kita harus berkaca pada dunia. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita harusnya boleh berpikir dan merasakan hal negatif karena itulah cara kita mengerti dunia,” ujar seorang profesor psikologi Denmark, Svend Brinkmann dari Aalborg University.

Menurutnya seperti melansir antaranews.com, obsesi orang- orang pada kebahagiaan bisa memiliki efek samping yang buruk, dan memaksa diri sendiri untuk bahagia sepanjang waktu bisa membuat emosi menjadi kerdil.

Terlebih lagi, kebahagiaan bukanlah respons yang tepat untuk semua situasi dalam hidup.

Brinkmann percaya upaya bahagia sepanjang waktu membuat seseorang tidak bisa menghadapi situasi yang buruk.

“Hidup memang indah dari waktu ke waktu, tapi juga tragis. Orang meninggal dalam hidup kita, kite kehilangan mereka, jika kita hanya terbiasa memiliki pikiran positif, kenyataan buruk bisa berdampak lebih besar pada diri kita saat itu terjadi.”

Dia juga takut masyarakat berubah di mana orang merasa tidak dapat mendiskusikan kekhawatiran dan masalah mereka dengan teman-teman karena mereka pikir mereka harus berpura-pura semuanya baik-baik saja sepanjang waktu.

Kita semua ditekan untuk menjadi bahagia, kata Brinkmann – ia adalah anti buku yang memberitahu setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaan dan harus menyalahkan diri sendiri atas kesedihan yang menerpa.

Karena tanpa ada hal-hal buruk dalam hidup, Anda tidak akan pernah menghargai hal yang baik. Anda tentu boleh saja merasa sedih, marah, bersalah, malu dan tentu bahagia.

[Nicken Kharisma]

Tags: bahagiakebahagiaanberusaha bahagiaberbahagiabahaya memaksa kebahagiaan

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Dorong UMKM Naik Kelas, Pemkot Pekalongan Fasilitasi Sertifikasi Halal
  • Samsat Sukoharjo Perkuat Sinergi Layanan dan Genjot Kepatuhan, Targetkan 80% Warga Taat Pajak 
  • Wakil Wali Kota Pekalongan Ajak ASN Terapkan Gaya Hidup Hemat Energi
  • LCCM 2026 Solo Hadir dengan Sistem Baru, Tekankan Uji Mental dan Kecepatan Siswa
  • 49 CPNS Resmi Jadi PNS, Wali Kota Pekalongan: Kinerja Harus Bagus!

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.