• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

Malala Yousafzai, Utusan Perdamaian PBB, Peraih Nobel Termuda

Redaksi by Redaksi
8 April 2017
in News
0
Malala Yousafzai, Utusan Perdamaian PBB, Peraih Nobel Termuda

SoloposFM- Malala Yousafzai, yang telah mendorong para perempuan untuk bersekolah, akhirnya ditetapkan sebagai utusan perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) seperti dikutip dari antaranews.com, Sabtu (8/4/2017). Malala telah mendapatkan penghargaan  nobel perdamaian sejak tahun 2014, yakni ketika ia berusia 17 tahun. Upayanya yang berani untuk memajukan pendidikan bagi anak-anak perempuan telah menyemangati begitu banyak orang di seluruh dunia.

Seperti yang dirangkum dari berbagai sumber, Malala lahir pada tanggal 12 Juli 1997 di kota Mingora, distrik Swat, Pakistan bagian utara. Malala temasuk anak yang pandai. Awalnya ia bercita-cita menjadi dokter. Tapi belakangan ia  ingin menjadi politikus. Ayahnya sering mengajaknya ngobrol atau berdiskusi tentang politik sampai jauh malam. Bisa dikata, pendidik utama Malala adalah ayahnya sendiri, yang tidak pernah membedakan putrinya ini dari anak-anak laki-laki,

Suatu ketika, ayah Malala  dihubungi oleh Abdul Hai Kakar, koresponden untuk BBC  berbahasa Urdu. Ia mencari guru atau murid perempuan yang bisa menulis  catatan harian tentang pengalaman hidup di bawah ‘tekanan’ Taliban.

Awalnya seorang gadis bersedia, sebelum akhirnya batal karena orang tuanya tidak setuju karena khawatir keselamatan jiwanya terancam. Malala, yang mendengar hal itu, menawarkan diri.

“Aku ingin orang-orang tahu apa yang terjadi. Pendidikan adalah hak kami. Agama Islam menyatakan setiap anak perempuan maupun lelaki seharusnya bersekolah.  Tercantum di dalam Al-Quran bahwa kita harus mencari ilmu pengetahuan, rajin belajar, dan menemukan misteri dunia ini,” ungkap Malala yang mengaku sebelumnya tidak pernah punya buku harian. Tulisan pertama Malala pada waktu itu berjudul ‘Aku Takut’

 

[Nabila Ikrima]

Tags: tahunYousafzaimalala17raihnobelmudadamaipakistan

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Warga Laweyan Solo Dapat Hadiah Umrah Iftar Ramadan dari Lorin Group Solo
  • Tirta Ampera Boyolali Perkuat Layanan, Pengaduan Pelanggan Kini Terintegrasi Digital
  • Dana Transfer Pusat Turun Rp1,5 Triliun, Sumanto: Pemprov Jateng Harus Kreatif Gali Potensi PAD
  • Fokus Kolaborasi Pemerintah Pusat–Daerah, Penanganan Rob Pekalongan Masuk Tahap Evaluasi Ulang
  • DPRD Jateng Bahas Raperda Penyelenggaraan Standardisasi Jalan dan Garis Sempadan

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.