• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home Opini

Anak-anak Era 15 Detik

Ayu Prawitasari

Abu Nadzib by Abu Nadzib
16 September 2025
in Opini
0
gen z generasi abai

Ayu Prawitasari (Jurnalis Solopos Media Group)

Radio Solopos — Saya merasa lelah. Namun, ini ternyata menjadi titik balik ketika saya mulai menyadari bahwa ada yang tidak lagi relevan dalam pola pengasuhan yang saya terapkan kepada kedua anak remaja saya-masing-masing berusia 12 dan 14 tahun.

Sebelumnya, saya terbiasa menuntut perhatian mereka dari sudut pandang nostalgia masa kecil saya sendiri: bahwa orang tua adalah pusat dan anak-anak harus memberikan perhatian penuh. Namun, logika itu kini mulai terasa usang.

Sama usangnya dengan anggapan bahwa anak-anak, terutama remaja, adalah generasi yang abai terhadap lingkungan sekitar hanya karena mereka lekat dengan gawai. Itu adalah sebuah penilaian tidak fair dari kelompok digital immigrant (para orang tua seperti kami) terhadap digital native (anak-anak kami).

Jarak di antara kami memang ada, bahkan menganga. Dan sebagai ibu, di titik itulah saya mulai menyadari bahwa sepatu kami berbeda.

***

Pada Sabtu siang ketika semua anggota keluarga berkumpul di rumah, si bungsu, anak perempuan saya berkata bahwa dia mulai menyukai pelajaran sejarah.

Yang dia maksud dengan pelajaran sejarah bukanlah jenis pelajaran sejarah di sekolah, melainkan konten-konten sejarah di platform TikTok-platform yang jarang saya gunakan dalam keseharian.

Sambil duduk di sofa kecil, tepat di depan meja kerja saya, anak saya lantas bercerita perihal sejarah-sejarah unik dunia yang berseliweran di beranda media sosialnya.

Melihat antusiasmenya, saya pun memutuskan menghentikan aktivitas menulis, menghampirinya, dan kemudian duduk di sampingnya.

Awalnya anak saya menyinggung perihal Leonardo da Vinci. Pelukis yang luar biasa, begitu kata dia, sebelum kemudian percakapan berkembang menjadi topik kejeniusan serta karakter “berbeda” dari para seniman berpengaruh di dunia dibandingkan orang kebanyakan.

Yang anak saya garis bawahi dari tema itu adalah menjadi “berbeda” tidaklah selalu buruk. Justru sebaliknya, dia mulai menyadari bahwa orang-orang yang berbeda, bisa jadi mereka sesungguhnya orang-orang jenius.

Pembicaraan terus mengalir hingga ke topik burung moa, burung purba yang punah sejak 1445 lalu, akibat perburuan manusia, penebangan hutan, dan pertanian.

Kami akhirnya mendiskusikan tentang evoluasi: sebuah proses yang membuat banyak makhluk purba punah lantaran ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan alam.

Walau tubuh burung moa sangat besar: 3,6 meter tingginya dengan berat 250 kg, kewaspadaan hewan yang tak punya sayap itu sangatlah tipis.

Analogi anak saya lalu berkembang menjadi tuntutan hidup pada masa depan-bahwa menjadi kreatif, berbeda, namun tetap waspada, mungkin adalah kunci evolusi, begitu kesimpulan dia.

Gadis kecil itu lalu tersenyum jahil sembari menambahkan kalimat: mungkin guru-guru yang membosankan di sekolah harus mengalami evolusi supaya murid-murid tertarik mendengarkan mereka.

Saya tertawa keras-keras mendengar anekdotnya. Perkatannya itu mengingatkan saya pada tulisan sosiolog Frank Furedi, The Ages of Distraction, yang menyebut bahwa meski perhatian telah lama dipandang sebagai standar moral dan kebajikan (bahkan sejak abad ke-18), namun kehadiran Internet telah mengubahnya.

Munculnya Internet bahkan telah mengubah struktur realitas sosial manusia secara ekstrem.

Pada masa analog, distraksi adalah gangguan. Kini, sebaliknya, distraksi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital. Jadi, kesan “abai”, menurut Furedi, bukan lagi salah satu bentuk penyimpangan sosial, melainkan justru menjadi bagian dari kultur, dengan pemaknaan baru tentu saja.

Saya sendiri mungkin bisa menjadi contoh yang bagus. Tumbuh dengan pengasuhan berbasis buku dan perhatian penuh terhadap kehadiran orang tua, anak-anak saya, di sisi lain, justru tumbuh dalam kepungan video 15-60 detik TikTok dan Reels.

Pada awalnya, saya merasa terengah-engah harus berkompetisi dengan mesin demi mendapatkan perhatian dari kedua anak saya. Begitu sengitnya perebutan itu hingga saya secara serampangan menilai mereka sebagai generasi yang abai: pada orang tua, juga pada lingkungan.

“Tapi logikanya tidak seperti itu,” seolah saya mendengar Furedi berseru, mengutip filsuf John Dewey, bahwa persoalan pada anak muda sebaiknya dilihat dari sudut pandang siapa dan apa yang menurut mereka layak mendapatkan perhatian.

Jadi, fokus kita bukan pada defisit perhatian mereka sebagai sinonim dari kurangnya perhatian, melainkan apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Kalimat ini terparkir lama di kepala saya. Saya lalu menyadari, sebagai ibu sekaligus koordinator pengasuhan keluarga, tugas saya adalah menyelidiki siapa dan apa yang menjadi pusat perhatian dua anak saya di rumah.

Tugas ini jauh lebih penting ketimbang menuduh mereka tidak sopan-sebuah tuduhan yang tak akan menyelesaikan setumpuk persoalan di ruang digital: dari mulai distraksi, oversharing, kecanduan gim, ruang gema, ujaran kebencian, hingga kebocoran data pribadi.

Saya sangat yakin, peran ibu, baik di era analog maupun digital, tetap sama, yaitu sebagai jangkar anak. Ini bukan hanya peran secara teknis di ruang digital, tetapi juga secara historis. Simone Weil, filsuf Prancis, merumuskannya dengan indah:

“Perhatian adalah bentuk tertinggi dari kemurahan hati.”

Pendampingan yang penuh perhatian, kata Weil lagi, sejatinya adalah bentuk cinta dan pendidikan yang paling sejati.

Berbasis pendapat Weil ini, menurut saya, kehadiran perempuan, terutama ibu yang literat digital dan responsif secara emosional menjadi sangat krusial dalam membangun kembali perhatian bermakna.

Sepatu para orang tua dan anak-anak mereka memang berbeda, namun tujuan yang digenggam dua generasi ini sama. Dengan demikian, perdebatan mengenai siapa yang abai dan siapa yang memperhatikan, bukanlah titik krusialnya.

Tantangan besar itu ada di depan mata-ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Ini bukan hanya tentang akses terhadap teknologi, melainkan juga soal keselamatan dan ketahanan keluarga di tengah gempuran informasi.

Artikel berjudul Komitmen Pemerintah Melindungi Anak di Ruang Digital di laman komdigi.go.id menunjukkan urgensi itu secara jelas.

Mengutip data BPS 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa 39,71% anak usia dini telah menggunakan ponsel dan 35,57% di antaranya aktif mengakses Internet.

Penggunaan gawai bahkan sudah menjangkau anak di bawah usia satu tahun (5,88%) dengan puncaknya pada kelompok usia 5–6 tahun, di mana 58,25% menggunakan telepon genggam dan 51,19% lainnya mengakses Internet secara aktif.

Fenomena ini bahkan sudah merambah ke wilayah tertinggal dengan laporan kecanduan media sosial pada anak berusia 13–14 tahun.

UNICEF, masih dalam laman yang sama, juga mencatat adanya lonjakan global dalam akses Internet oleh anak-anak. Di Indonesia, dari 221 juta pengguna Internet (79,5% dari total populasi), 9,17%-nya adalah anak-anak di bawah usia 12 tahun—kelompok paling rentan terhadap eksploitasi digital dan paparan konten negatif.

Dan semua angka ini jelas bukanlah sekadar statistik. Data ini adalah sinyal peringatan tentang seberapa cepat dunia anak-anak kita berubah dan seberapa mendesaknya kehadiran orang dewasa yang mampu membaca perubahan tersebut, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kebijaksanaan.

Ini adalah pertaruhan kita untuk masa depan: bahwa, siapa yang mendampingi anak-anak berpikir kritis dan beretika di dunia digital-dengan perhatian penuh-akan menentukan wajah Indonesia kelak.

Literasi digital, pada akhirnya, memang bukan hanya perihal mengenal dan memahami teknologi, melainkan juga kemampuan orang tua-khususnya ibu-hadir secara utuh di tengah kebisingan dunia digital.

Sebuah kemampuan yang selama ini telah dimiliki banyak ibu: memperhatikan, mendengarkan, dan membimbing. Dan pengorbanan inilah, menurut saya, bentuk literasi paling awal sekaligus paling abadi.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 1 September 2025. Penulis adalah Manajer Konten Solopos Media Group)

Tags: gen zgenerasi abaiayu prawitasari

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • DPRD Solo Soroti Ketimpangan Kinerja hingga Infrastruktur, Desak Reformasi Menyeluruh Pemkot
  • 66% Lulusan Terserap Kerja, Politeknik Assalaam Mantap Menuju Universitas di 2027
  • Hadiri Halal Bihalal Pasbata, Gubernur Jateng Ingatkan Soal Bijak Memilih Informasi
  • Korban Meninggal dalam Tragedi Kecelakaan KA di Bekasi Bertambah Jadi Tujuh Orang
  • Rekonsiliasi Data JKN Digenjot, Keaktifan Peserta di Soloraya Masih Jadi Sorotan

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.