• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home Opini

Bencana Alam atau Bencana Kepemimpinan?

Adam Aryo Gumilar

Abu Nadzib by Abu Nadzib
30 December 2025
in Opini, News
0
Bencana Alam atau Bencana Kepemimpinan?

Adam Aryo Gumilar (Istimewa)

Radio Solopos, SOLO — Bencana banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatra membawa dua cerita, yakni cerita derita bagi mereka yang menjadi korban dan cerita bagi kita yang menyaksikan dari jauh.

Di tengah situasi yang belum sepenuhnya membaik, tentu hati kita ikut terguncang, apalagi ketika istri saya memperlihatkan potongan video di media sosial yang menampilkan bayi seusia anak saya ditemukan tanpa orang tua.

Saya tidak bisa berkata-kata dan hanya dapat menyadari betapa rapuhnya hidup serta betapa besarnya tanggung jawab moral sebagai sesama manusia.

Sebagai rakyat biasa, saya menyadari satu hal, yakni kontribusi kita sangat terbatas.

Mungkin hanya sekadar donasi semampu kita dan tentunya doa yang terus dipanjatkan tanpa hitungan.

Setiap kali bencana menimpa negeri ini, saya melihat fenomena ketika perhatian publik bukan hanya tertuju pada korban atau kerusakan yang ditinggalkan, tetapi juga pada bagaimana para pemimpin di republik ini menunjukkan empati, tanggung jawab, dan kepekaan moral.

Dalam konteks inilah yang menjadi sorotan serius bukan hanya tindakan seorang pejabat publik, yang dinilai bukan semata dari apa yang dilakukan, tetapi juga bagaimana dan mengapa mereka melakukannya.

Media sosial akhir-akhir ini begitu ramai ketika Zulkifli Hasan datang ke lokasi bencana dengan memanggul karung bantuan di depan kamera.

Sebagai warga negara dengan tingkat daya saing sumber daya manusia peringkat ke-46 dari 67 negara pada 2024 versi International Institute for Management Development asal Swiss, tentu kita semua sadar dan bertanya-tanya.

Ketulusan 100%

Saya membaca komentar di setiap unggahan yang menampilkan Zulhas. Ada yang mengatakan bahwa Zulhas ingin meniru gaya Umar bin Khattab yang turun ke masyarakat secara diam-diam dengan memanggul karung makanan.

Sebagai muslim yang tidak begitu taat, saya juga tahu sosok Umar sering menjadi contoh bagaimana pemimpin semestinya hadir di tengah rakyat.

Namun, meniru Umar bukan soal meniru gerakannya, melainkan meniru ketulusannya. Umar pernah berkata, jika seekor keledai tersesat di Irak, ia takut Allah akan menanyakan tanggung jawabnya.

Ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati sekaliber Umar tidak mencari sorotan rakyat; ia justru takut dianggap lalai oleh Tuhan.

Jika saya menjadi konsultan Zulhas, mungkin saya akan merekomendasikan agar ia menyumbangkan seluruh hartanya atau setengah hartanya.

Tentu saja tidak lupa ada kamera, bahkan mengundang wartawan. Setidaknya itu lebih menarik daripada sekadar memanggul karung.

Setidaknya Zulhas meniru para sahabat Nabi yang berlomba-lomba memberikan harta terbaik untuk umat. Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya, Umar menyerahkan separuh hartanya.

Mereka tidak turun ke jalan memikul karung sambil disorot kamera, tetapi memberikan sesuatu dengan tulus untuk umat.

Saya rasa kepemimpinan modern di republik ini seharusnya meneladani semangat itu. Pemimpin tidak perlu memaksakan diri mengangkat bantuan hanya demi sebuah foto dan video.

Justru yang lebih bermakna adalah keberanian memberikan sesuatu yang nyata. Aksi tersebut, misalnya, menyumbangkan kekayaan pribadi secara transparan, mendorong kebijakan kebencanaan yang lebih cepat dan manusiawi, serta memastikan logistik bantuan terdistribusi tanpa hambatan.

Representasi Simbolik

Dalam pemikiran yang sedikit lebih kritis, gestur semacam itu juga mengingatkan kita pada konsep representasi simbolik yang kerap dijadikan alat kekuasaan.

Mengutip apa yang dikatakan Karl Marx yang ditulis Friedrich Engels dalam buku Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (1888), Marx mengatakan, “The philosophers have only interpreted the world, in various ways; the point, however, is to change it,” yang berarti bahwa persoalan dunia bukan sekadar menafsirkan realitas, melainkan mengubahnya.

Ketika seorang pemimpin tampil sebagai pekerja keras hanya untuk memperlihatkan peran dalam narasi tertentu, itu hanyalah representasi, bukan transformasi.

Yang dibutuhkan masyarakat adalah kebijakan yang benar-benar memperbaiki hidup mereka, bukan adegan heroik sesaat yang tidak mengubah struktur ketidakadilan.

Bencana alam selalu membawa luka, tetapi bencana kepemimpinan yang penuh pencitraan dapat merusak kepercayaan publik dalam jangka panjang.

Jika pemimpin ingin dihormati, ia tidak perlu berlagak simpati sampai berkeringat di depan kamera. Ia hanya perlu konsisten, adil, dan berani mengorbankan kenyamanannya sendiri demi rakyat.

Tindakan seperti mendorong anggaran negara agar lebih fokus pada evakuasi, penyediaan logistik, dukungan tenaga kesehatan, serta percepatan pemulihan infrastruktur, transportasi, dan komunikasi akan jauh lebih berarti daripada adegan seremonial.

Rakyat Indonesia semakin cerdas. Mereka menilai berdasarkan konsistensi dan substansi, bukan berdasarkan foto-foto heroik yang dirancang untuk media sosial.

Karena itulah, para pejabat publik seharusnya tidak meremehkan kedewasaan moral masyarakat.

Di era digital ini, ketulusan jauh lebih kuat daripada pencitraan. Penderitaan korban bencana seharusnya tidak dijadikan panggung propaganda siapa pun.

Hal yang mereka butuhkan adalah kehadiran negara yang nyata, bantuan yang cepat, dan kebijakan yang memihak.

Pada akhirnya, bencana alam adalah ujian bagi rakyat, tetapi bencana kepemimpinan adalah ujian bagi negara. Keduanya menentukan masa depan bangsa.

Pemimpin yang memilih jalan ketulusan mungkin tidak selalu terlihat heroik di kamera, tetapi ia akan dikenang dengan hormat oleh rakyat.

Itu jauh lebih berharga daripada setiap foto yang diambil dalam sedetik pencitraan.

Esai ini karya Adam Aryo Gumilar, Staf Project Manager Solopos, yang terbit di Harian Solopos, 20 Desember 2025.

Tags: bencana alambencana kepemimpinan

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Selasar UMKM: Baru Sebulan Berjalan, Cimol Bojot Sedulur Tembus Top Rating
  • Selasar UMKM: Sweetcheri Andalkan Inovasi Dessert Kekinian, Tiramisu Tetap Primadona
  • Selasar UMKM: Berawal dari Rumah, Begini Cara Rempeyek Mbah Uti Menembus Pasar Nasional
  • Zumba Party Lorin Solo Gaet 250 Peserta, Angkat Gaya Hidup Sehat dan Momentum Kartini
  • Polinus Siap Tambah 9 Prodi Baru, Target Jadi Universitas dan Perkuat Arah Global

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.