• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Kemarahan Menjadi Norma

Budhi Hartanto

Abu Nadzib by Abu Nadzib
18 June 2026
in Opini
0

Radio Solopos, SOLO — Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi secara fundamental. Media sosial memungkinkan pertukaran informasi berlangsung cepat, luas, dan tanpa batas geografis.

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul perubahan sosial yang sering kali berjalan secara perlahan dan tidak disadari.

Salah satunya adalah semakin terbiasanya masyarakat terhadap ekspresi kemarahan, penghinaan, dan permusuhan dalam ruang publik digital.

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ia berkembang melalui proses paparan yang berlangsung terus-menerus.

Setiap hari pengguna media sosial disuguhi berbagai bentuk konflik, perdebatan, hujatan, serta praktik mempermalukan individu di ruang publik.

Ketika pola komunikasi seperti ini berulang tanpa henti, masyarakat berpotensi menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura.

Menurut Bandura (1977), manusia belajar bukan hanya melalui pengalaman langsung, tetapi juga melalui observasi terhadap perilaku orang lain.

Individu cenderung meniru pola perilaku yang sering dilihat, terutama ketika perilaku tersebut memperoleh perhatian, pengakuan, atau penghargaan sosial.

Agresi Verbal

Di era digital, berbagai bentuk kemarahan dan agresi verbal sering mendapatkan respons yang besar dalam bentuk komentar, tanda suka, maupun penyebaran ulang.

Situasi ini menciptakan mekanisme pembelajaran sosial yang membuat perilaku agresif tampak efektif dan layak ditiru.

Akibatnya, batas antara komunikasi yang sehat dan komunikasi yang merendahkan menjadi semakin kabur.

Proses tersebut kemudian diperkuat oleh fenomena yang dalam kajian komunikasi dikenal sebagai desensitization. Baran dan Davis (2012) menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap kekerasan, konflik, atau perilaku agresif dapat menurunkan sensitivitas emosional individu terhadap tindakan tersebut.

Sesuatu yang pada awalnya dianggap tidak pantas lambat laun dipersepsikan sebagai hal yang biasa.

Dalam konteks media sosial, desensitisasi menyebabkan individu semakin terbiasa menyaksikan penghinaan, perundungan, dan permusuhan.

Respons emosional berupa empati atau keprihatinan cenderung menurun karena konflik telah menjadi bagian dari konsumsi informasi sehari-hari.

Akibatnya, penderitaan atau kesalahan orang lain tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang memerlukan pemahaman, melainkan sering kali menjadi objek hiburan atau konsumsi publik.

Fenomena lain yang turut memperkuat kondisi tersebut adalah kecenderungan konformitas sosial (conformity). Myers (2010) menjelaskan bahwa individu sering menyesuaikan sikap dan perilakunya dengan kelompok mayoritas demi memperoleh penerimaan sosial atau menghindari penolakan.

Dalam lingkungan digital, tekanan konformitas dapat muncul melalui opini yang dominan, tren percakapan, maupun arus komentar yang berkembang secara masif.

Akibatnya, banyak individu terlibat dalam praktik mengecam atau menghakimi bukan semata-mata karena memahami substansi persoalan, tetapi karena adanya dorongan untuk menyesuaikan diri dengan opini kelompok.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan berpikir kritis sering kali dikalahkan oleh kebutuhan untuk menunjukkan keberpihakan sosial.

Kondisi tersebut memiliki hubungan erat dengan teori perilaku massa yang dikemukakan oleh Gustave Le Bon (1895). Le Bon menjelaskan bahwa individu yang berada dalam kerumunan cenderung mengalami penurunan kemampuan berpikir rasional dan lebih mudah dipengaruhi oleh emosi kolektif.

Meskipun teori ini dikembangkan jauh sebelum lahirnya internet, relevansinya tetap terlihat dalam dinamika media sosial saat ini.

Kerumunan digital memiliki karakteristik yang memungkinkan emosi menyebar dengan cepat.

Kemarahan, kecaman, dan sentimen negatif sering kali memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan diskusi yang bersifat reflektif dan argumentatif.

Dalam situasi demikian, individu dapat terdorong untuk mengadopsi perilaku yang berbeda dari karakter aslinya karena pengaruh tekanan sosial dan emosi kelompok.

Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai lingkungan sosial yang membentuk nilai, persepsi, dan kebiasaan masyarakat.

Ketika ruang digital didominasi oleh kemarahan dan konflik, terdapat risiko bahwa masyarakat akan semakin kehilangan kemampuan untuk memahami perbedaan secara konstruktif.

Implikasi jangka panjang dari fenomena ini tidak dapat dianggap sepele. Menurunnya empati, meningkatnya polarisasi sosial, serta melemahnya budaya dialog dapat mengurangi kualitas kehidupan demokratis dan kohesi sosial.

Reaksi Emosional

Masyarakat yang terbiasa bereaksi secara emosional berpotensi mengalami kesulitan dalam membangun diskusi yang berbasis argumentasi, fakta, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Oleh karena itu, tantangan utama masyarakat digital saat ini bukan hanya bagaimana mengelola arus informasi yang semakin deras, tetapi juga bagaimana mempertahankan kepekaan sosial di tengah lingkungan komunikasi yang sering kali mendorong reaksi emosional.

Literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga kemampuan mengelola emosi, berpikir kritis, serta menjaga kualitas interaksi sosial.

Pada akhirnya, kualitas suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologinya, tetapi juga oleh kemampuannya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Dalam konteks tersebut, menjaga empati, keterbukaan, dan kemampuan memahami orang lain merupakan prasyarat penting bagi terciptanya ruang publik yang sehat dan beradab.

 

(Penulis adalah pegiat budaya di PSTA Nunggak Semi Surakarta, mahasiswa S3 program Ilmu Ekonomi FEB Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)

Tags: opini radio soloposbudhi hartantokemarahan digital

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Ketika Kemarahan Menjadi Norma
  • Selasar UMKM: By Muza Bidik Pasar Premium dengan Batik Kontemporer
  • Selasar UMKM: Sosis Solo Gajahan Ubah Kudapan Tradisional Jadi Oleh-Oleh Khas Solo
  • Wali Kota Pekalongan Gembira 1.500 Peserta Ramaikan FUN RUN & WALK
  • Balgis Diab: Jalan menuju Pemimpin Masa Depan Dimulai sejak Bangku SD

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.