Radio Solopos, SOLO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta mencatat penurunan signifikan volume sampah harian yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Penurunan ini terjadi seiring penataan pascakebakaran hebat serta penguatan kebijakan pelarangan pengiriman sampah organik ke TPA.
Berdasarkan data DLH Surakarta, rata-rata sampah harian yang masuk pada Februari 2026 mencapai 351 ton per hari.
Angka tersebut berhasil ditekan menjadi 272 ton per hari pada Agustus 2026.
Penurunan ini dipicu oleh optimalisasi pemilahan sampah di tingkat hulu (sumber sampah warga) serta pengoperasian teknologi pemrosesan mekanis seperti PLTSa.
Kepala DLH Surakarta, Herwin Tri Nugroho, menjelaskan bahwa masa tanggap darurat kebakaran selama dua minggu telah selesai dan kini memasuki tahap transisi serta penataan area penampungan (dumping).
Penataan berfokus pada percepatan pembatasan sampah organik guna menghentikan pembentukan gas metana yang memicu kebakaran.
“Sesuai regulasi nasional, sampah yang masuk ke TPA ditargetkan hanya berupa residu yang tidak bisa diolah lagi. Kami terus mendorong edukasi perubahan perilaku masyarakat agar memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Herwin dalam talkshow Selasar Radio Solopos, Kamis (17/9/2026).
Dampak Penurunan Sampah
Di sisi lain, berkurangnya volume sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo berdampak langsung pada penurunan pendapatan pemulung di kawasan tersebut.
Ketua Komunitas Pemulung Putri Cempo, Karni, mengungkapkan bahwa pembatasan armada sampah dan tingginya proporsi sampah residu membuat hasil pulungan merosot tajam.
“Sekarang yang masuk dominan residu yang tidak bisa dijual. Biasanya kami bisa mengumpulkan 12 sampai 15 karung per hari, sekarang paling hanya dapat 4 hingga 5 karung,” kata Karni.
Karni menambahkan, sebagian besar pemulung belum memiliki modal atau pekerjaan alternatif mengingat faktor usia.
Pihaknya berharap Pemkot Surakarta tetap melibatkan pemulung dalam setiap rantai pengelolaan sampah agar kesejahteraan mereka terjaga.
Skema Pemberdayaan Pemulung
Menanggapi keluhan tersebut, Pemkot Surakarta menegaskan tidak akan meninggalkan komunitas pemulung dalam skema penataan sampah kota.
Herwin menuturkan, Wali Kota Surakarta telah menginstruksikan lintas dinas untuk menyusun program penyerapan tenaga kerja bagi para pemulung.
Salah satu solusi jangka pendek yang disiapkan Pemkot Surakarta adalah memanfaatkan keahlian pemulung dalam memilah sampah pada berbagai acara besar.
Pelibatan ini menyasar kegiatan MICE hingga acara keagamaan dan budaya seperti Haul.
“Teman-teman pemulung memiliki keahlian memilah sampah bernilai ekonomi dengan cepat. Potensi ini akan kami hubungkan dengan penyelenggaraan acara-acara besar di Solo sebagai salah satu opsi untuk memulihkan pendapatan mereka,” tutup Herwin.
