Radio Solopos, SOLO — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner tradisional, Lestari Snack, mampu bertahan lebih dari 15 tahun di tengah persaingan pasar dengan mengandalkan inovasi produk dan ketekunan dalam pemasaran, terutama saat momentum Lebaran.
Owner Lestari Snack, Ratim Santoso, mengatakan permintaan produk meningkat signifikan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan pasar, khususnya untuk oleh-oleh dan hampers.
“Setiap menjelang Lebaran, permintaan pasti meningkat. Hampir semua UMKM sibuk produksi,” ujar Ratim dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan, produk unggulan Lestari Snack meliputi ampyang jahe, ampyang wijen (kawijen), peyek kacang, serta onde-onde.
Dari seluruh varian tersebut, ampyang menjadi produk utama karena bahan bakunya mudah diperoleh dan relatif stabil di pasaran.
Menurutnya, pemilihan jenis produk dengan bahan baku yang tersedia sepanjang waktu menjadi strategi penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Hal ini dilakukan untuk menghindari hambatan produksi saat permintaan meningkat.
“Kalau bahan baku sulit didapat saat permintaan tinggi, justru akan menghambat produksi. Karena itu, kami memilih produk dengan bahan yang selalu tersedia,” katanya.
Usaha tersebut dirintis sejak 2011 dari percobaan sederhana tanpa latar belakang keahlian di bidang kuliner.
Otodidak
Ratim mengaku mempelajari proses produksi secara otodidak hingga menemukan komposisi dan teknik yang tepat.
Dalam perjalanannya, tantangan terbesar tidak hanya berasal dari proses produksi, tetapi juga dari perubahan selera konsumen.
Produk tradisional seperti ampyang dinilai kurang diminati generasi muda karena dianggap terlalu manis dan bertekstur keras.
Berbagai inovasi pun dilakukan, mulai dari pengembangan varian rasa hingga perbaikan kemasan agar lebih praktis dan menarik.
Namun, penetrasi pasar ke segmen milenial dan generasi Z masih menjadi tantangan tersendiri.
“Sudah banyak inovasi dilakukan, termasuk variasi bahan dan kemasan. Tapi memang untuk menarik minat anak muda masih menjadi tantangan,” ujarnya.
Di sisi lain, Ratim menekankan pentingnya strategi pemasaran yang konsisten.
Ia mengaku tidak mudah menyerah meski kerap menghadapi penolakan saat menawarkan produk ke toko oleh-oleh.
Pengalaman tersebut justru dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produk dan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
“Kalau ditolak, harus dicari tahu kekurangannya di mana. Dari situ kita perbaiki dan coba lagi,” katanya.
Saat ini, produk Lestari Snack telah dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di wilayah Solo dan sekitarnya.
Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, usaha tersebut terus berupaya beradaptasi menghadapi dinamika pasar.
Ke depan, Lestari Snack menargetkan perluasan pasar dengan tetap menjaga kualitas produk serta menghadirkan inovasi yang sesuai dengan perkembangan selera konsumen.
Dengan konsistensi, inovasi, dan ketekunan dalam menghadapi tantangan, Lestari Snack membuktikan bahwa produk kuliner tradisional tetap memiliki peluang berkembang di tengah perubahan zaman.
