Radio Solopos, SOLO — Selama ini ada kekhawatiran di publik bahwa tidak mengkonsumsi daging dan ikan akan membuat tubuh kekurangan protein dan gizi.
Namun kekhawatiran itu dibantah secara tegas oleh Yogen Marshel Wijaya dan Surya Lee, dua narasumber yang mengisi acara seminar dan talkshow Gaya Hidup Vegan: Langkah Efektif Mengatasi Pemanasan Global di Griya Solopos, Sabtu (31/1/2026).
“Bapak Ibu lihat apakah saya seperti orang yang kekurangan gizi dan protein?” tanya Yogen yang bertubuh tinggi tegap sambil tertawa kepada 150-an peserta yang memadati Griya Solopos di Jl. Adisucipto No.190 Solo.
Tak ayal, pertanyaan Ketua Vegan Squad Indonesia itu mengundang tawa ratusan peserta seminar.
Menurut Yogen, daging bukan mendominasi kandungan protein yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Bahkan, kata dia, kandungan protein pada daging masih kalah dari kedelai.
“Sumber protein bukan hanya daging atau telur. Berdasarkan data, kandungan protein pada daging ayam itu 14 gram, telur 13,9 gram. Malah masih kalah dari kacang kedelai yang 34,4 gram,” kata pria yang sudah malang melintang sebagai narasumber seminar pemanasan global tersebut.
Yogen lantas mengingatkan tentang komposisi makanan yang dianjurkan oleh pemerintah untuk dikonsumsi masyarakat.
Berdasarkan anjuran pemerintah tersebut, kata dia, sepertiga piring berisi nasi sebagai makanan pokok serta sepertiganya harus ada sayur dan buah-buahan.
“Lauk pauk yang biasanya daging maksimal hanya 1/6 dari piring, lauk bisa dari tempe. Andaikata mau tetap konsumsi daging, sesuai anjuran pemerintah maksimal 1/6 dari piring atau sekitar 16%. Jadi 84% isi piring itu adalah vegetarian. Kita dianjurkan pemerintah mengurangi konsumsi daging. Tidak diwajibkan daging, ada tahu tempe juga. Jadi konsumsi vegan itu sebenarnya lebih murah kan,” katanya dalam acara yang peserta mayoritasnya adalah kaum perempuan.
Sementara Surya Lee menegaskan konsumsi vegan tidak mengurangi stamina dan kebugaran.
Bahkan, menurutnya, sebagai atlet ia merasa hidup vegan yang dijalaninya sejak tahun 2016 membawa banyak keuntungan.
Ia merasa lebih bugar dan mampu menjalani olahraga triathlon (renang, lari, sepeda) dengan stamina yang prima.
Kulitnya terlihat lebih bersih dan sempat dikira menjalani perawatan kulit oleh rekan-rekannya.
“Banyak yang bilang kalau vegan gampang lemas, tidak punya tenaga. Lah saya sebagai atlet oke-oke saja, bahkan bisa berprestasi secara nasional maupun internasional. Kan kebutuhan gizi protein itu bisa didapatkan dari banyak sumber, tidak hanya dari daging dan ikan,” ujar atlet yang masuk Kualifikasi Kejuaraan Dunia Ocean Man di Dubai, UEA Desember 2025 itu.
Pemanasan Global
Terkait pemanasan global, Yogen Marshel Wijaya menyatakan pihaknya aktif berkampanye hidup sehat ala vegan sebagai bentuk kepedulian menjaga bumi.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi di bumi sebagian besar andil dari manusia yang menjadikan peternakan hewan sebagai industri.
Akibatnya, banyak hutan yang dibabat demi bisnis pengembangbiakan hewan.
Berdasarkan data badan pangan dunia, FAO, sebagian besar penyebab pemanasan global disumbang oleh peternakan hewan yakni sebesar 77%.
Sisanya sekitar 13% disumbang dari industri, batu bara, transportasi, listrik dan lain sebagainya.
“Dari data FAO, peternakan hewan menyumbang emisi lebih besar dari mobil dan industri jika digabungkan,” kata pria yang menjalani hidup vegan sejak tahun 2006 itu.
Data yang sama dilansir World Watch Institute tahun 2009.
Berdasarkan lembaga riset independen yang didirikan oleh Lester R. Brown di Washington, D.C. pada tahun 1974 itu, 51% pemanasan global disumbang dari peternakan hewan.
Lembaga peduli lingkungan dunia lainnya, UNEP, di tahun 2011 menyebut pengurangan dampak signifikan pemanasan global hanya dimungkinkan dengan perubahan pola makan dunia yang substansial, jauh dari produk hewani.
Selanjutnya, kata Yogen, laporan dari lembaga iklim dunia, IPCC, tahun 2019 menyatakan peternakan hewan menyebabkan deforestasi (penggundulan hutan) hampir 75% di seluruh dunia.
“Dan laporan IPCC juga menyebutkan pola makan nabati dapat membebaskan jutaan kilometer persegi lahan hutan penyerap karbon dan mengurangi hingga 8 gigaton emisi karbon setiap tahun pada tahun 2050,” ujarnya.
Seminar dan talkshow tiga jam itu mengubah perspektif banyak peserta. Sebagian besar tidak menyangka pola makan mereka mempengaruhi pemanasan global atau kerusakan alam.
“Ternyata kerusakan alam ini juga ada andil kita-kita yang makan daging setiap hari ya,” celetuk salah satu peserta, Nina, yang diamini rekan di sebelahnya.
Pada bagian lain, kehadiran Surya Lee dalam acara kemarin menjadi magnet tersendiri, khususnya kaum hawa.
Daya tarik sang aktor dan bintang iklan yang berbodi atletis itu membuat banyak peserta perempuan yang berebut berfoto bersama seusai acara.
Kegiatan tersebut ditayangkan secara live di Youtube Vegan Squad Indonesia serta on air di Radio Solopos dan streaming di radio.solopos.com.





