• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

Amerika Serikat Krisis Telur Ayam jadi Peluang Besar Peternak di Indonesia

Abu Nadzib by Abu Nadzib
27 March 2025
in News
0
amerika serikat krisis telur peluang peternak ayam indonesia

Ilustrasi telur ayam (Istimewa)

Radio Solopos — Amerika Serikat saat ini sedang dilanda krisis telur ayam yang memberi peluang bagi peternak di Indonesia.

Negara Paman Sam itu membutuhkan jutaan butir telur setiap bulan untuk kepentingan gizi rakyatnya.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU) Ahmad Dawami mengatakan pemerintah Indonesia berencana mengekspor 1,6 juta butir telur setiap bulan ke Amerika Serikat.

Ahmad Dawami mengatakan produksi telur secara nasional diperkirakan mencapai 14.000 ton per hari atau 14 juta kilogram per hari.

Bahkan, dia mengklaim pasokan telur ayam negeri tetap aman jika pemerintah mengirimkan 16 juta butir—160 juta butir setiap bulan ke AS.

“Kalau misalkan ada ekspor 1,6 juta butir [setiap bulan] ke Amerika, nothing lah. It’s nothing lah, kalau bisa 16 juta [butir] atau 160 juta butir [setiap bulan] malah bagus, ya,” kata Dawami dikutip Radio Solopos dari Bisnis, Kamis (27/3/2025).

Menurutnya, semakin tinggi ekspor telur ayam yang dilakukan Indonesia, maka semakin baik.

“Kalau bisa per bulan 160 juta butir saja tidak masalah. Indonesia malah makin bagus kalau bisa demikian. Dan itu harus diinisiasi atau dipimpin atau dilokomotifi oleh pemerintah,” ujarnya.

Dawami menjelaskan peningkatan produksi telur sejatinya mengikuti kebutuhan pasar atau permintaan masyarakat.

Sehingga, jika kebutuhan telur meningkat, maka produksi juga bisa digenjot. Begitu pun sebaliknya.

“Kalau mau dinaikkan [produksi telur ayam] itu sebenarnya tidak mengalami kesulitan, karena dengan menambah pemeliharaan, menambah pemeliharaan umur ayam saja, sudah pasti akan bertambah kan jumlah telurnya,” terangnya.

Meski demikian, Dawami menuturkan bahwa untuk melakukan ekspor telur ke negara yang dilanda eggflation seperti AS tidaklah mudah.

Sebab, diperlukan sejumlah syarat agar telur ayam dalam negeri bisa lolos ke mancanegara.

“Memang kalau lihat peluang, pasti peluang untuk ekspor dan sebagainya. Tapi kan ekspor juga tidak segampang itu. Karena ekspor itu kan perlu beberapa persyaratan,” tuturnya.

Dia menjelaskan harus ada kecocokan dengan skema government-to-government (G2G) antar dua negara.
Setelahnya, diperlukan survei dan pengecekan kualitas biosecurity ayam petelur, seperti kualitas telur, higienitas, hingga keamanan.

“Apalagi perbedaannya kalau telur di Amerika, di Eropa itu kan hampir semuanya warnanya putih, di Indonesia warnanya coklat. Kan tidak gampang mengubah pikiran orang,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, harga telur di AS tembus US$4,11 atau Rp68.103 per kilogram.

Begitu pula harga telur di Singapura yang mencapai US$3,24 atau Rp53.687 per kilogram dan di Australia US$4,13 atau Rp68.428 per kilogram.

Krisis telur juga terjadi di Swiss yang harganya menyentuh US$6,85 atau sekitar Rp113.534 per kilogram.
Selain itu, di Selandia Baru harga telur mencapai US$6,22 atau Rp103.063 per kilogram dan harga telur di Prancis dibanderol US$4,08 atau Rp67.606 per kilogram.

Sementara itu, jika menengok Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rabu (26/3/2025) pukul 16.06 WIB, harga rata-rata telur ayam ras dibanderol Rp29.502 per kilogram di tingkat konsumen.

Harganya sedikit turun di bawah harga acuan penjualan (HAP) Rp30.000 per kilogram.

Data tersebut juga menunjukkan harga telur ayam termahal tembus ke harga Rp70.000 per kilogram di Papua Pegunungan, sedangkan harga telur ayam terendah dibanderol Rp25.246 per kilogram di Aceh.

Tags: amerika serikatkrisis telurekspor telur

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Dorong UMKM Naik Kelas, Pemkot Pekalongan Fasilitasi Sertifikasi Halal
  • Samsat Sukoharjo Perkuat Sinergi Layanan dan Genjot Kepatuhan, Targetkan 80% Warga Taat Pajak 
  • Wakil Wali Kota Pekalongan Ajak ASN Terapkan Gaya Hidup Hemat Energi
  • LCCM 2026 Solo Hadir dengan Sistem Baru, Tekankan Uji Mental dan Kecepatan Siswa
  • 49 CPNS Resmi Jadi PNS, Wali Kota Pekalongan: Kinerja Harus Bagus!

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.