Radio Solopos – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kembali meluncurkan Buku Panduan Penanggulangan Bencana yang sebelumnya diterbitkan pada tahun 2023. Buku ini dihadirkan untuk memperkuat acuan penanganan kesehatan anak di tengah kondisi kebencanaan yang semakin kompleks di Indonesia.
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kurniawan Taufiq Kadafi, menjelaskan bahwa buku tersebut dirancang sebagai pedoman bagi para relawan, baik dari kalangan tenaga medis maupun nonmedis.
Meski memuat sejumlah materi kesehatan, isi panduan ini juga mencakup pembahasan yang bersifat umum sehingga dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai kebutuhan psikososial anak, potensi penyakit yang muncul pada berbagai jenis bencana, serta langkah-langkah antisipasi yang dapat dilakukan,” katanya dalam Re-launching Buku Panduan Penanggulangan Bencana di gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin, (22/12/2025).
Kurniawan mengatakan dalam situasi bencana, anak-anak sering kali tidak dianggap sebagai entitas yang berbeda dan hanya dipandang sebagai bagian dari pengungsi saja. Padahal, anak memiliki kerentanan khusus, baik secara fisik maupun psikologis.
Paparan lingkungan yang tidak aman, banjir udara yang tercemar, hingga tekanan psikososial dapat berdampak serius pada kesehatan anak. Semua aspek tersebut dibahas secara sistematis dalam buku ini. Selain aspek fisik, buku ini juga menekankan pentingnya kesehatan mental dan psikososial anak.
Anak-anak yang berada di pengungsian berisiko terpapar konflik konflik orang dewasa, stres berkepanjangan, serta pengalaman traumatis. Oleh karena itu, setiap pihak yang berada di dalam pengungsian seyogyanya mengetahui prinsip-prinsip tersebut. Kemudian, mereka juga bisa melakukan hal-hal sederhana sehingga meminimalkan risiko tersebut terhadap anak-anak.
“Pendekatan sederhana seperti bermain, bernyanyi, dan interaksi positif menjadi bagian penting dari pemulihan anak, dan dijelaskan secara ilmiah dalam buku ini,” imbuhnya.
Berbagai pertanyaan umum masyarakat, seperti dampak banjir pada anak, kelanjutan pemberian ASI, penggunaan susu formula, pencegahan penyakit infeksi, hingga kesiapan tas siaga bencana juga tertuang dalam buku ini. Sebab, katanya, sedari awal buku ini memang disusun secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai tugas, termasuk Satgas ASI dan Satgas Imunisasi.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan setelah dirilis resmi pada tahun 2023, peluncuran ulang ini dinilai penting karena buku ini semakin relevan, terutama setelah terjadi bencana besar pada akhir tahun 2025.
“Kami melihat bahwa tenaga medis dan relawan sering kali masih kebingungan mengenai apa saja yang harus dipersiapkan saat turun ke daerah bencana. Jangan sampai kita datang ke lokasi bencana tanpa persiapan yang matang,” ungkapnya.
Piprim menyebut secara substansi isi bukunya masih relatif sama dengan versi 2023. Dia berharap perilisan ulang ini membuat buku tersebut diperkenalkan secara luas.
Buku ini disusun berdasarkan literatur ilmiah dan praktik berbasis bukti. Banyak diambil dari pengalaman rekan-rekan kami yang turun langsung ke lokasi bencana, seperti gempa di Palu, Lombok, letusan gunung berapi, dan bencana lainnya. kesimpulan.
Sumber: Bisnis.com
