Radio Solopos, SOLO — Dari 18.000 merek jamu yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru 73 produk yang masuk kategori Obah Herbal Terstandar (OHT) dan 20 produk yang termasuk Fitofarmaka.
Hal ini menjadi tantangan bersama untuk mendorong jamu naik status menjadi OHT dan Fitofarmaka.
Demikian dinyatakan Kepala BPOM Prof Taruna Ikrar saat hadir sebagai pembicara pada kuliah umum di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS), Jumat (4/12/2025).
Sekitar 100 mahasiswa hadir antara lain dari program studi Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, serta program S2 dan S3 Kedokteran.
Kepala BPOM mengulas mengenai “Perkembangan Obat Bahan Alam di Indonesia, Peluang dan Tantangan”.
Ia menjelaskan, biodiversitas Indonesia merupakan fondasi ekologis bagi masa depan.
Dengan potensi tersebut, saat ini sudah terdapat lebih dari 18.000 jamu yang terdaftar di BPOM sedangkan yang terstandar menjadi OHT baru 73 produk dan Fitofarmaka baru 20 produk.
“BPOM mempunyai otorisasi pengawasan sepanjang siklus hidup obat herbal. Untuk itu, sinergi lintar sektor menjadi kunci akselerasi pengembangan obat bahan alam, termasuk kerja sama antara Badan POM dan UNS,” ujarnya.
Ikut hadir dari UNS pada kuliah umum ini ini, yaitu Rektor UNS Prof. Hartono, Dekan FK UNS Prof. Reviono, Direktur RSUD dr. Moewardi Zulfachmi Wahab, beserta jajaran dosen dan tenaga pendidik FK UNS.
Dalam pidato pembukaannya, Dekan FK UNS Prof. Reviono menjelaskan kegiatan hari ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara akademisi dan regulator dalam mengupayakan produk herbal yang aman dan bermutu.
Rektor UNS Prof. Hartono turut memaparkan progres dan rencana pengembangan tropical herbs medicine terintegrasi dengan RS UNS.
Hartono berharap adanya arahan dan pendampingan dari BPOM untuk mewujudkan rencana pengembangan demi mengoptimalkan kekayaan alam Indonesia.

