• About Us
    • Copyright
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
  • Accor Hotels Solo helat Appreciation Night
  • Besok, Choir Competition 2018 digelar
  • Contact Us
  • Crew
    • Abu Nadzib
    • Ardi Sardjono
    • Avrilia Wahyuana
    • Damar Sri Prakosa
    • Fira Maghfirani
    • Ika Wibowo
    • Indra Saputra
    • Iwan Buwono
    • Noer Atmaja
    • Rachmad Agunanto
    • Senja Kurnia
    • Suwarmin
    • Wahyu Panji
  • Index
  • Jadwal Acara
Radio Solopos FM
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us
No Result
View All Result
Radio Solopos FM
No Result
View All Result
Home News

Program Pengabdian UIN Solo Dorong Wirausaha Perempuan Berbasis Kearifan Lokal

Damar Sri Prakoso by Damar Sri Prakoso
4 November 2025
in News
0
Program Pengabdian UIN Solo Dorong Wirausaha Perempuan Berbasis Kearifan Lokal

Ibu-ibu PKK Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, belajar mengolah bonggol pisang menjadi makanan. (istimewa)

Radio Solopos, SUKOHARJO — Siapa sangka bonggol pisang, bagian batang yang biasanya dibuang, kini bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi ibu-ibu PKK di Kabupaten Sukoharjo.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Manajemen Branding Berbasis Kearifan Lokal pada Produk Karya Ibu-Ibu PKK Kabupaten Sukoharjo”, para peserta diajak mengubah bahan sederhana itu menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing tinggi.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Raden Mas Said Surakarta, dengan tim pelaksana dari dosen Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, yang diketuai oleh Taufik Wijaya, M.Si.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota PKK Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, yang selama ini aktif mengembangkan kegiatan ekonomi keluarga berbasis rumah tangga.

Dalam sambutannya, perwakilan PKK setempat menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang dinilai membawa angin segar bagi pemberdayaan perempuan di desa.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap ibu-ibu PKK dapat lebih kreatif dalam menggali potensi lokal dan menjadikannya sumber ekonomi keluarga,” ujar Ning Catur, perwakilan PKK.

Ning Catur menambahkan pelatihan seperti itu menjadi kebutuhan nyata masyarakat.

“Ibu-ibu di sini sebenarnya punya semangat wirausaha yang besar, tapi sering bingung harus mulai dari mana. Dengan pelatihan ini, kami jadi punya arah dan semangat baru untuk memanfaatkan potensi lokal,” ungkapnya.

Ketua pelaksana, Taufik Wijaya, M.Si. membuka kegiatan dengan pemaparan mengenai pentingnya manajemen branding dalam dunia wirausaha modern.

Ia menekankan branding bukan sekadar soal nama atau logo, melainkan cara membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas dan nilai sebuah produk.

“Wirausaha jangan berbasis viral, karena itu biasanya hanya sesaat. Lihat apa yang ada di sekitar kita, olah dengan nilai tambah, dan bangun citra merek yang kuat,” tegas Taufik.

Menurutnya, kekuatan merek merupakan pembeda utama dalam pasar yang kompetitif. Ia mencontohkan fenomena sederhana di pasaran.

“Kita bisa lihat dari tiga produk es teh kemasan — rasanya hampir sama, tapi yang paling laku adalah yang punya branding kuat. Itulah bukti bahwa persepsi bisa mengalahkan rasa,” ujarnya.

Taufik juga mengingatkan pengembangan ekonomi lokal harus berakar pada tiga potensi utama masyarakat: energi, air, dan pangan.

Dengan pengelolaan yang kreatif dan strategi branding yang tepat, ketiga sektor itu dapat menjadi sumber keberlanjutan ekonomi desa.

Sesi paling menarik dalam kegiatan ini adalah workshop pembuatan kripik bonggol pisang, yang dipandu oleh narasumber utama, H. Sugiman, S.E., M.M.

Ia memperkenalkan bonggol pisang sebagai bahan makanan bernilai gizi tinggi yang selama ini kurang dimanfaatkan.

“Bonggol pisang kaya serat, membantu pencernaan, menurunkan kolesterol, serta mengandung kalium yang baik untuk jantung. Selain itu, bersifat diuretik yang membantu detoksifikasi tubuh,” jelas Sugiman.

Tak hanya menyajikan teori, Sugiman mengajak peserta langsung praktik mengolah bonggol pisang menjadi berbagai produk olahan, mulai dari keripik bonggol pisang renyah, sayur atau gudeg bonggol pisang, abon bonggol pisang, hingga tepung bonggol pisang yang bisa diolah menjadi snack stick, nugget, rolade, atau bahkan healthy snack bar.

Peserta antusias mencatat dan mencoba setiap tahapan proses produksi. Beberapa ibu tampak kagum ketika mengetahui bahwa bahan sederhana seperti bonggol pisang dapat diolah menjadi produk yang modern dan diminati pasar.

“Ternyata bisa dibuat jadi macam-macam ya, tidak hanya untuk lauk tapi juga jadi camilan sehat. Anak-anak pasti suka,” ujar salah satu peserta dengan semangat.

Tak berhenti pada kreativitas, peserta juga mendapat pembekalan tentang teknik pendinginan, penyimpanan, dan standar higienitas produk pangan rumahan. Materi ini penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga memenuhi standar keamanan pangan dan bisa bersaing di pasaran.

Menurut Sugiman, kunci keberhasilan usaha rumahan bukan hanya pada rasa, tetapi juga konsistensi kualitas dan kebersihan produk.

“Konsumen sekarang cerdas. Mereka memilih produk yang sehat, bersih, dan punya nilai tambah. Jadi, kalau mau naik kelas, jangan asal enak tapi harus punya standar,” ujarnya.

Menutup sesi pelatihan, Sugiman memberikan motivasi yang menggugah para peserta. “Jangan hanya membangkitkan potensi, tapi mulai hari ini jadikan dapur Anda sebagai pabrik rezeki. Ambil bonggolnya, buat kripiknya, dan raih untung dari bahan yang tak terduga,” katanya.

Banyak peserta mengaku termotivasi untuk mulai mencoba usaha rumahan berbasis olahan bonggol pisang, terutama setelah mengetahui peluang pasar yang besar untuk produk sehat dan lokal.

Kegiatan kemudian ditutup dengan demo pembuatan kripik bonggol pisang, di mana para peserta bergiliran mencoba proses penggorengan dan pengemasan sederhana.

Melalui kegiatan ini, UIN Raden Mas Said Surakarta berharap masyarakat, khususnya kelompok perempuan, mampu memanfaatkan potensi lokal dengan pendekatan ilmiah dan berkelanjutan. Bagi Taufik Wijaya kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ekonomi keumatan yang mandiri dan berkeadilan.

“Kami ingin ibu-ibu PKK tidak hanya produktif, tapi juga memahami nilai branding dan pemasaran agar usahanya berumur panjang,” ujar Taufik menutup kegiatan.

Para peserta berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dan berkesinambungan, agar produk olahan khas Sukoharjo dapat dikenal luas dan menjadi bagian dari gerakan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Tags: wirausahaUIN Raden Mas Said Surakartakearifan lokalpengabdian masyarakatUIN SoloPKK SukoharjoLPPM

Studio Streaming

Radio Streaming

Recent Posts

  • Warga Laweyan Solo Dapat Hadiah Umrah Iftar Ramadan dari Lorin Group Solo
  • Tirta Ampera Boyolali Perkuat Layanan, Pengaduan Pelanggan Kini Terintegrasi Digital
  • Dana Transfer Pusat Turun Rp1,5 Triliun, Sumanto: Pemprov Jateng Harus Kreatif Gali Potensi PAD
  • Fokus Kolaborasi Pemerintah Pusat–Daerah, Penanganan Rob Pekalongan Masuk Tahap Evaluasi Ulang
  • DPRD Jateng Bahas Raperda Penyelenggaraan Standardisasi Jalan dan Garis Sempadan

Category

  • Lifestyle
  • Opini
  • News
  • Program
  • Event
  • Podcast
  • Galery Foto

Site Links

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org
  • Copyright
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Lifestyle
  • Opini
  • Program
  • Video
  • Event
  • Podcast
  • About Us

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.