Radio Solopos, SOLO — Usaha mikro kecil menengah (UMKM) Rengginang Super Chandra Dewi mampu bertahan dan berkembang selama hampir dua dekade dengan mengandalkan inovasi produk serta kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tantangan usaha.
UMKM ini dimiliki oleh Yuda Anugerah, yang mulai memproduksi rengginang sejak tahun 2007.
Yuda menjelaskan, usaha tersebut berawal dari produksi emping skala kecil yang dilakukan keluarga.
Atas saran sang ibu mertua, keluarga kemudian mulai mengembangkan rengginang berbahan dasar beras ketan.
Merek Chandra Dewi sendiri awalnya dikenal sebagai merek emping sebelum akhirnya berkembang menjadi berbagai produk, salah satunya rengginang super.
Dalam perjalanannya, Rengginang Super Chandra Dewi terus melakukan inovasi.

Tidak hanya memproduksi rengginang bentuk bulat konvensional, tetapi juga menghadirkan varian ukuran kecil, bentuk koin, hingga rengginang matang siap santap.
Inovasi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan harga, kebutuhan pasar, serta memperluas segmen konsumen.
“Setiap masalah justru melahirkan solusi. Ketika stok menumpuk, kami buat ukuran kecil. Saat distribusi lambat, kami jual matang. Ketika kemasan bermasalah, kami ganti desain yang lebih praktis,” ujar Yuda dalam program “Ruang UMKM” di Radio Solopos, Rabu (18/2/2026).
Saat ini, produk Rengginang Super Chandra Dewi telah dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di Solo dan sekitarnya, dengan harga eceran berkisar puluhan ribu rupiah per kemasan.
Selain pasar tradisional dan toko oleh-oleh, penjualan juga dilakukan secara langsung ke konsumen serta melalui pemesanan daring, terutama untuk pembelian dalam jumlah besar.
Dari sisi bahan baku, Yuda menegaskan seluruh produk rengginang dibuat dari beras ketan murni tanpa campuran nasi, yang menjadi pembeda utama dengan produk sejenis.
Hingga kini, Rengginang Super Chandra Dewi memiliki empat varian rasa, yakni original asin, manis, terasi, dan varian pedas yang diluncurkan tahun ini dan telah masuk jaringan supermarket.
Dalam satu bulan, kapasitas produksi Rengginang Super Chandra Dewi dapat mencapai 1,1 ton, terutama pada periode permintaan tinggi seperti menjelang hari raya.
Meski demikian, Yuda mengakui tantangan UMKM tidak pernah berhenti, mulai dari keterbatasan modal hingga tenaga kerja.
“UMKM itu seninya di masalah. Tahun ini modal ada, bahan baku ada, tapi tenaga kerja kurang. Semua harus diantisipasi,” katanya.
