Radio Solopos, BOYOLALI — Kabar gembira bagi masyarakat Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah karena inovasi energi bersih kini hadir di Dusun Paras, Cepogo.
Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) yang didanai APBN TA 2025 melalui Kemensaintek dalam skema PKM Batch III memasang instalasi biodigester portabel untuk mengolah kotoran sapi perah menjadi biogas di Peternakan Sapi Perah PARAS.
Program ini menjadi terobosan strategis untuk menciptakan energi terbarukan, memperbaiki lingkungan, dan menekan biaya operasional peternak.
Kegiatan sosial kemasyarakatan itu dipimpin Dr. Winny Swastike, dosen Fakultas Peternakan dari Laboratorium Teknologi Hasil Ternak yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi P4GKM LPPM UNS.
Winny menggandeng dua pakar lintas disiplin ilmu yakni Dr. Achmad Basuki dari Teknik Sipil UNS serta Dr. Ahmad Pramono dari Fakultas Peternakan.
Kolaborasi ini melahirkan pendekatan terpadu dalam pengelolaan limbah peternakan yang dikenal sebagai sinergi “Emas Hitam dan Emas Putih”.
Sinergi ini menggambarkan optimalisasi kotoran sapi (emas hitam) untuk meminimalisasi penggunaan energi dalam pengolahan susu (emas putih) sehingga bernilai tambah ekonomi.
Dr. Winny Swastike memerinci, biodigester portabel yang dipasang mampu mengolah limbah kotoran sapi perah menjadi biogas ramah lingkungan sekaligus menghasilkan slurry sebagai pupuk organik berkualitas.
Teknologi ini menawarkan solusi jangka panjang untuk mengurangi pencemaran lingkungan, menurunkan emisi metana, dan menghadirkan energi bersih murah bagi peternak.
“Kami ingin peternak tidak lagi memandang kotoran sebagai beban tetapi sebagai sumber energi dan pupuk yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka,” ujar Dr. Winny.
Pemasangan instalasi biodigester sistem portabel ini berbeda dengan sistem cor yang biasa digunakan.
Keunggulan instalasi biodigester sistem portabel ada pada kemudahan instalasi dan meminimalisasi kebocoran yang sering terjadi pada biodigester tanam/cor sehingga memperbesar prosentase keberhasilan dan keberlanjutan biodigester sebagai penghasil biogas.
Satu Desa, Satu Energi Terbarukan
Winny melanjutkan, melalui kegiatan Pengabdian skema PKM DIKTI Batch III TA 2025 ini, Peternakan PARAS di Boyolali ditargetkan menjadi model percontohan integrasi energi terbarukan berbasis peternakan rakyat.
Disebutkan dia, Tim PKM memiliki rangkaian program, yakni pelatihan operasional dan perawatan biodigester, pengenalan sistem pemanfaatan biogas untuk memasak dan pemanas air, produksi pupuk organik dari residu biodigester dan edukasi ekonomi sirkular berbasis ternak
Pendekatan ini untuk memperkuat kemandirian energi di tingkat pedesaan sekaligus meningkatkan produktivitas peternak.
Menurutnya, program ini berkontribusi langsung pada beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 7 Energi Bersih dan Terjangkau dan SDG 15: Pengelolaan Lingkungan Darat.
“Inisiatif ini selaras dengan Asta Cita Pemerintah Indonesia, khususnya pada agenda peningkatan kualitas lingkungan hidup, pembangunan ekonomi hijau, dan pemerataan pembangunan pedesaan,” tandasnya.
Sinergi Kampus
Winny melanjutkan, pengabdian para dosen UNS ini menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan nasional terkait energi terbarukan dan pengelolaan limbah peternakan.
Kolaborasi lintas fakultas UNS menjadi momentum penting mempercepat adopsi teknologi hijau di sektor peternakan.
“Dengan hadirnya biodigester portabel di Cepogo, Boyolali, Desa Paras kini memiliki peluang menjadi ikon desa energi mandiri yang menginspirasi daerah lain di Indonesia,” tutup Winny Swastike.



