Radio Solopos – Yusnaini Rany sore itu nampak berlalu lalang di kompleks Balaikota Surakarta. Datang jauh dari Jambi, perempuan yang sudah 20 tahun menjadi jurnalis ini sepertinya sibuk mencari foto-foto dengan sudut terbaik di lokasi International Mask Festival (IMF) 2025 yang di gelar di Surakarta pada 14-15 November lalu.
Rany merupakan satu dari puluhan jurnalis yang sore itu hadir di lokasi untuk meliput pembukaan IMF 2025, Jumat (14/11/2025). Namun menariknya, di antara mayoritas jurnalis muda, sosok Rany seakan tak mau kalah semangat.
“Saya sudah sejak 2005 jadi wartawan, ya sekitar 20 tahunan lah. Dulu 15 tahun di sebuah koran di Jambi sekarang di media independen yaitu Indonesia Daily,” ungkap Rany disela aktivitas peliputan sore itu.
Rany sepekan itu mengikuti pelatihan jurnalistik di Kota Surakarta bersama puluhan jurnalis lainnya dari seluruh penjuru Indonesia. Kesempatan pelatihan ini diikuti Rany dengan penuh semangat meskipun harus menempuh perjalanan berjam-jam-jam perjalanan darat dan udara dari Jambi ke Surakarta. Dalam pelatihan yang diikutinya kali ini, dia tidak hanya membaca ilmu jurnalistiknya, namun juga belajar ilmu baru, seperti mengedit video hingga mengamankan data pribadi.
“Hidup harus terus belajar, baik formal maupun non formal. Karena perempuan adalah madrasah bagi anaknya. Saya ingin menginspirasi perempuan dan berbagi ilmu. Jadi saya semangat pelatihan yang juga sebagai salah satu cara menajlin hubungan silaturahmi serta membangun organisasi,” ungkap ibu satu putri ini.
Rani kini juga tengah menjalani studi S3 nya di suatu kampus di Jakarta. Ia mengaku, seluruh kegiatannya didukung sang suami.
Forum Jurnalis Perempuan
Yusnaini Rany merupakan ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jambi periode 2024-2027.
Dikutip dari laman FJPIndonesia.com, Yusnaini Rany dalam pidato pelantikannya kala itu menyampaikan komitmennya untuk mendorong profesionalitas para jurnalis perempuan di Jambi dalam menjalankan tugas jurnalistik, melalui peningkatan keterampilan dan kompetensi lainnya.
“Beberapa organisasi jurnalis kurang mendengarkan suara perempuan. Lebih jantan atau berpihak pada laki-laki. Padahal perempuan butuh kesempatan yang sama namun perempuan kurang dilibatkan. Untuk itu FJPI hadir. Melalui pelatihan dan capacity building yang dilakukan bergiliran, baik skala lokal maupun nasional, kami saling memperkuat. Organisasi sangat penting, karena disaat kantor tidak mendukung (kala jurnalis misalnya kena kasus dalam peliputan) kami hadir untuk mereka,” cerita Rany kepada jurnalis Radio Solopos sore itu.

