Radio Solopos, SOLO — Pelaku UMKM kuliner “Sweetcheri” terus berinovasi menghadirkan berbagai dessert kekinian untuk mempertahankan daya saing di tengah tren pasar yang dinamis.
Di tengah beragam varian produk tersebut, tiramisu justru tetap menjadi andalan yang paling diminati konsumen.
Owner Sweetcheri, Cynthia Oktaviany, mengungkapkan usaha yang dirintis sejak 2015 tersebut berawal dari kegemaran pribadi membuat kue sejak kecil.
Aktivitas membantu orang tua di dapur secara tidak langsung membentuk keterampilan yang kemudian berkembang menjadi peluang usaha.
“Dulu awalnya memang terpaksa bantu orang tua, tapi lama-lama justru jadi senang dan akhirnya diteruskan sampai sekarang,” ujar Cynthia dalam Talkshow Selasar UMKM di Radio Solopos, Rabu (15/4/2026).
Dalam perjalanannya, Sweetcheri mengalami transformasi produk dari kue tradisional seperti bolu jadul dan donat menjadi dessert modern yang mengikuti tren, seperti tiramisu dan banana pudding.
Strategi Utama
Adaptasi terhadap selera pasar menjadi strategi utama untuk mempertahankan minat konsumen.
Saat ini, Sweetcheri memproduksi sekitar 10 varian dessert yang dipasarkan melalui sistem pre-order dan penjualan langsung saat Car Free Day (CFD) di Colomadu.
Selain itu, usaha ini juga melayani pesanan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kue ulang tahun hingga snack box.
Cynthia menjelaskan seluruh produk dibuat tanpa sistem stok, melainkan berdasarkan pesanan untuk menjaga kualitas dan kesegaran.
Proses produksi dilakukan secara terencana agar tetap efisien saat menghadapi penjualan rutin mingguan.
“Kalau untuk harian kita tidak stok, jadi benar-benar sesuai pesanan supaya kualitas tetap terjaga,” katanya.
Di antara berbagai produk yang ditawarkan, tiramisu menjadi menu paling diminati pelanggan sejak awal usaha berjalan.
Meskipun sempat mengalami perubahan tren dan tampilan kemasan, permintaan terhadap produk tersebut tetap stabil.
Dari sisi harga, Sweetcheri menawarkan produk dengan kisaran Rp7.000 hingga Rp20.000. Harga tersebut dinilai kompetitif untuk ukuran dessert rumahan dengan kualitas premium.
Event Khusus
Dalam satu kali penjualan di CFD, Sweetcheri mampu mencatat omzet sekitar Rp300.000 dengan jumlah produksi sekitar 20 hingga 25 item.
Penjualan juga meningkat saat mengikuti event khusus, seperti bazar Ramadan di Nogosari yang mendapat respons positif dari masyarakat.
Cynthia mengakui persaingan usaha di sektor kuliner semakin ketat. Namun, ia memilih untuk tidak berfokus pada kompetitor dan lebih mengutamakan peningkatan kualitas produk serta menjaga kepercayaan pelanggan.
“Saingan pasti ada, tapi kami lebih fokus ke kualitas produk dan pelayanan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tampilan visual dalam menarik minat pembeli, terutama pada penjualan di ruang terbuka seperti CFD.
Penggunaan properti seperti tenda dan etalase transparan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya tarik produk.
Ke depan, Sweetcheri berencana memperluas jangkauan pasar dengan mengikuti berbagai event dan bazar, meski saat ini masih menyesuaikan dengan kapasitas produksi rumahan yang terbatas.
Cynthia berharap usaha yang dijalankannya dapat terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Semoga ke depannya bisa lebih dikenal dan berkembang lebih besar lagi,” katanya.
Dengan kemampuan beradaptasi terhadap tren, menjaga kualitas, serta konsistensi dalam pelayanan, Sweetcheri menjadi salah satu contoh UMKM kuliner yang mampu bertahan dan berkembang dari skala rumahan di tengah persaingan industri dessert yang dinamis.

