Radio Solopos, BOYOLALI — Langkah maju dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam upaya pemanfaatan limbah ternak menjadi energi terbarukan di Boyolali.
Melalui Tim Pengabdian Kemendiktisaintek Skema PKM Batch III, UNS meresmikan instalasi biogas digester portabel di Peternakan Sapi Perah Paras, Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Minggu (30/11/lalu).
Digester biogas portabel di Peternakan Paras ditargetkan menghasilkan gas pada hari ke-14 setelah proses fermentasi.
Biogas tersebut akan diuji coba untuk menggantikan penggunaan LPG di rumah tangga peternak sehingga dapat menekan biaya energi dan mendorong kemandirian energi desa.
Peresmian dilakukan oleh Dr. Winny Swastike, dosen Fakultas Peternakan UNS yang sekaligus Tim Pengabdian Kemendiktisaintek Skema PKM Batch III.
Acara dikemas dalam kegiatan sosialisasi dan workshop bertema “Pengolahan Emas Putih dan Emas Hitam untuk Energi dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan.”
Winny Swastike mengatakan, digester biogas portabel yang dipasang di Peternakan Paras ditargetkan mulai menghasilkan gas pada hari ke-14 setelah proses fermentasi.
“Teknologi ini tidak hanya mengolah limbah kotoran sapi tetapi juga memberi nilai tambah bagi peternak. Kami berharap biogas ini dapat menjadi solusi energi bersih yang murah dan mudah diterapkan,” ujar Winny.
Kegiatan pengabdian masyarakat di Boyolali menghadirkan para ahli lintas bidang dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
SDGs 12 & Asta Cita Ekonomi Hijau
Dr. Achmad Basuki dari Fakultas Teknik Sipil memaparkan konsep desain kandang sehat dan efisien, serta memberi penjelasan teknis tentang konstruksi instalasi biogas portabel yang aman, tahan lama, dan mudah dioperasikan oleh peternak.
Dosen Fakultas Peternakan Dr. Achmad Pramono membekali peternak dengan pengetahuan mengenai fermentasi hijauan pakan, manajemen pemberian pakan, produksi susu, serta optimalisasi kesehatan ternak untuk meningkatkan produktivitas usaha peternakan.
“Keduanya menegaskan bahwa pemanfaatan limbah ternak yang disebut emas hitam dan pengolahan susu yang disebut sebagai emas putih harus berjalan paralel sebagai satu sistem usaha berkelanjutan,” ujar Winny.
Winny menambahkan, program ini selaras dengan SDGs Nomor 12 yaitu Responsible Consumption and Production, serta mendukung Asta Cita Pemerintah Indonesia melalui penguatan ekonomi ramah lingkungan dan efisiensi sumber daya.
Melalui program ini, kata dia, peternak tidak hanya menghasilkan susu berkualitas tetapi juga energi bersih dari limbah ternak.
“Model ini diharapkan menjadi contoh edukatif bagi daerah lain,” katanya.
Antusiasme Peternak
Sementara itu, para peternak di Peternakan Paras Boyolali mengikuti kegiatan workshop dengan antusias, mulai dari sesi teori hingga praktik pengisian digester, perawatan, dan simulasi pemanfaatan gas.
“Kami senang bisa belajar langsung dari para pakar. Semoga biogas ini bisa benar-benar mengurangi biaya LPG di rumah,” ujar salah satu peternak peserta kegiatan.
Winny Swastike menyatakan peresmian digester biogas portabel di Boyolali ini menjadi bukti nyata sinergi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mengembangkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung.
Tim pengabdian berkomitmen melakukan monitoring berkala hingga biogas benar-benar siap digunakan oleh peternak. (ADV/*)


